Perkembangan transportasi saat ini merupakan sebuah hal yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat yang memerlukan sebuah moda transportasi yang aman, handal, dan tepat waktu. Kereta semicepat dengan kecepatan maksimal 160 km/jam pada jalur eksisting utara (lintas Surabaya-Jakarta) yang kecepatan maksimal di jalur tersebut masih mencapai 120 km/jam hadir sebagai salah satu solusi yang digagas pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan di atas. Konsekuensi dari peningkatan kecepatan pada jalur tersebut adalah keharusan meningkatan track quality index(TQI) yang terdiri dari empat parameter yaitu angkatan, listringan, lebar jalur dan pertinggian. TrackQuality Index(TQI) adalah standar nilai yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas jalan rel. Nilai TQI dapat memantau degradasi trackdan operasi pemeliharaan, dapat meringkas dan menampilkan kondisi bagian besar track, dan berkorelasi dengan standar keamanan dan nilai kualitas berkendara (Hamid dan gross, 1981). TQI saat ini pada jalur eksisting untuk kecepatan maksimal 120 km/jam yang ditetapkan PT. KAI sebesar 20 untuk sepanjang lintas utara, namun sebagai objek penelitian hanya digunakan lintas Surabaya-Cepu. Dengan metode pendekatan berupa regresi linier sederhana yang melibatkan item TQI dan kecepatan, serta regresi linier berganda dengan item empat parameter penyusun TQI dan kecepatan.Sedangkan jumlah frekuensi pemecokan tahunan digunakan metode perhitungan PT. KAI. Dari hasil analisis model hubungandidapatkan rekomendasi nilai TQI untuk KA semicepat (160 km/jam) yaitu 7, Sedangkan jumlah frekuensi pemecokan tahunan adalah minimal 1 kali.
Copyrights © 2020