JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang
Vol 7, No 2 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2020

KLASIFIKASI TINGKAT KERENTANAN DAERAH BANJIR DI KECAMATAN PUTUSSIBAU SELATAN KABUPATEN KAPUAS HULU

Juniar Doni Pratama (Unknown)
Agustiah Wulandari (Unknown)
Gusti Zulkifli Mulki (Unknown)



Article Info

Publish Date
03 Jun 2020

Abstract

Banjir merupakan peristiwa terjadinya genangan di dataran yang kering sebagai akibat terjadinya limpasan air dari sungai. Terdapat sebelas Kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu  yang rentan terhadap banjir sejak ratusan tahun lalu, salah satunya Kecamatan Putussibau Selatan yang termasuk kawasan rawan banjir dikarenakan Kecamatan ini memiliki banyak anak sungai. Tujuan penelitian adalah mengklasifikasikan daerah rawan banjir berdasarkan klasifikasi tingkat kerentanan banjir di Kecamatan Putussibau Selatan Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis overlay. Hasil analisis ditampil dalam bentuk peta klasifikasi banjir. Banjir di Kecamatan Putussibau Selatan terbagi menjadi empat klasifikasi, klasifikasi tidak rentan berada di Desa Tanjung Lokang. Cukup rentan berada di Desa Bungan Jaya, Desa Beringin Jaya, Desa Kereho, Desa Cempaka Baru, Desa Urung Unsa dan Desa Jaras. Rentan berada di Desa Suka Maju, Desa Siyut/Sayut, Desa Ingko Tambe, Kedamin Darat dan Desa Melapi. Sangat rentan berada Kelurahan Kedamin Hulu, Kedamin Hilir, Desa Sungai Uluk dan Desa Tanjung Jati. Arahan permanfaatan ruang kawasan sangat rentan yaitu hutan Produksi sebesar 6% di peruntukan sebagai hutan yang melindungi kawasan di bawahnya, pertanian sebesar 6%  diperuntukkan sebagai kegiatan pertanian lahan basah, Taman Nasional sebesar 8% diperuntukan sebagai zona inti, zona religi, budaya, sejarah dan zona permanfaatan.   Kata Kunci: banjir, tingkat kerentanan, Putussibau Selatan

Copyrights © 2020






Journal Info

Abbrev

JMHMS

Publisher

Subject

Civil Engineering, Building, Construction & Architecture

Description

Pesatnya perkembangan di dunia pendidikan mengakibatkan peningkatan kebutuhan terhadap bangunan tinggi sebagai sarana dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bersumber pada Standar Nasional Indonesia (SNI 1726-2019) mengenai Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung ...