Artikel ini bermaksud mendalami persoalan inkulturasi dan sinkretisme. Apakah inkulturasi dapat berhasil tanpa sinkretisme? Berangkat dari studi kasus Sendratari Natal yang sempat memicu perdebatan sengit di Bali, penulis berpendapat bahwa sinkretisme mengacu pada persoalan yang sama dengan inkulturasi. Apa yang kita pandang sebagai sinkretisme di masa lalu, kini kita pahami sebagai inkulturasi. Karena itu, dibutuhkan pemahaman yang lebih positif tentang sinkretisme, yakni sebagai proses pemurnian dan pertobatan yang berkesinambungan. Dalam alur pemikiran ini, sinkretrisme menjadi nama lain inkulturasi, yakni proses integratif dalam mengungkapkan Injil dalam kebudayaan tertentu.
Copyrights © 2011