Dalam bidang etika, dua pemikiran yang bertentangan satu sama lain selama lebih dari seratus tahun (abad XXVII – XVIII), yaitu antara Intuisionisme dan Utilitarianisme. Henry Sidgwicklah (1838-1900) yang telah berhasil mendamaikan pertikaian dua sekolah pemikiran tersebut. Utilitarianisme mengoreksi dan menambah dimensi penting pada etika yang menekankan kemampuan manusia, yaitu aspek conscience, kesadaran (intuisionisme) dan sebaliknya. Menurutnya, kesenjangan logika di dalam utilitarianisme hanya dapat diatasi oleh intuisionisme. Tidaklah cukup untuk melihat bahwa kebahagiaan ialah tujuan akhir rasional semata bagi agen yang sadar seperti diyakini oleh utilitarianisme. Sebaliknya, intuisionisme membutuhkan utilitarianisme. Dua intuisi primer nalar, kebijaksanaan (prudence) dan kebajikan (benevolence) selalu mengarah kepada kebaikan (good). Kesimpulan Sidgwick adalah bahwa dua sekolah pemikiran ini bukan hanya hadir bersama dan saling bertentangan, tetapi saling membutuhkan baik secara logis maupun praktis.
Copyrights © 2005