Agustinus Ryadi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HENRY SIDGWICK’S RECONCILIATION IN ETHICS Agustinus Ryadi
Studia Philosophica et Theologica Vol 5 No 2 (2005)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v5i2.119

Abstract

Dalam bidang etika, dua pemikiran yang bertentangan satu sama lain selama lebih dari seratus tahun (abad XXVII – XVIII), yaitu antara Intuisionisme dan Utilitarianisme. Henry Sidgwicklah (1838-1900) yang telah berhasil mendamaikan pertikaian dua sekolah pemikiran tersebut. Utilitarianisme mengoreksi dan menambah dimensi penting pada etika yang menekankan kemampuan manusia, yaitu aspek conscience, kesadaran (intuisionisme) dan sebaliknya. Menurutnya, kesenjangan logika di dalam utilitarianisme hanya dapat diatasi oleh intuisionisme. Tidaklah cukup untuk melihat bahwa kebahagiaan ialah tujuan akhir rasional semata bagi agen yang sadar seperti diyakini oleh utilitarianisme. Sebaliknya, intuisionisme membutuhkan utilitarianisme. Dua intuisi primer nalar, kebijaksanaan (prudence) dan kebajikan (benevolence) selalu mengarah kepada kebaikan (good). Kesimpulan Sidgwick adalah bahwa dua sekolah pemikiran ini bukan hanya hadir bersama dan saling bertentangan, tetapi saling membutuhkan baik secara logis maupun praktis.
POSTMODERNISME VERSUS MODERNISME Agustinus Ryadi
Studia Philosophica et Theologica Vol 4 No 2 (2004)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v4i2.126

Abstract

Postmodernism has been a buzzword in contemporary society for the last decade. Postmodernism becomes a new trend shaking in philosophy world. It is shaking because postmodern thoughts attack modern thought. In postmodernism side, represented by Jean-François Lyotard, totality thought which is the main character of modernism is only a failure. When the totality is nothing, so it means the death of metanarrative. This is a postmodern critique that delivers modernism to defend itself. Jürgen Habermas from the modernism assumed that totality is really important in defending the integrity of society and culture. This article shows the argumentations quarrel between Lyotard and Habermas.
EXPLORING THE CONCEPT OF VIRTUE IN AQUINAS’ VIEW Agustinus Ryadi
Studia Philosophica et Theologica Vol 3 No 2 (2003)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v3i2.142

Abstract

Hidup moralitas tidaklah cukup jika hanya mengandalkan kemampuan penalaran. Alasannya: di dalam kemampuan penalaran itu kesesatan cara berpikir dapat terjadi. Kesesatan cara berpikir ini tentu saja tidak disadari oleh si subyek. Ketidaksadaran akan kesesatan cara berpikirnya menghantar si subyek itu sendiri kepada kebutaan terhadap tindakannya. St. Thomas Aquinaslah yang menekankan pentingnya keutamaan dalam hidup moralitas. Salah satu persoalan yang muncul adalah pendapat umum yang mengatakan bahwa keutamaan dapat ditemukan dalam perbuatan-perbuatan buruk, misalnya keberanian seorang penjahat untuk membunuh. Dengan demikian konsep keutamaan terbuka untuk didalami baik definisi maupun pengertiannya. P. Foot menyatakan bahwa keberaniaan yang ada di dalam tindakan-tindakan buruk bukanlah keutamaan. Sedangkan St. Thomas Aquinas menegaskan bahwa keutamaan adalah perintah yang pasti dari jiwa yang dapat diperoleh manusia melalui kebiasaan.