Tulisan ini mengeksplorasi cara orang Kui sebagai kelompok minoritasdi Alor, Nusa Tenggara Timur, mere?eksi dan mereproduksi identitasetnik mereka melalui sumber daya simbolik, bahasa etnik. Kerangkakerja yang digunakan untuk membahas masalah itu ialah kerangkakerja yang yang memperhatikan empat proses semiotik, yaitu praktik,indeksikalitas, ideologi, dan performansi. Pada tataran praktik, telahterjadi pergeseran penggunaan bahasa dari bahasa Kui ke bahasa MelayuAlor. Ditinjau dari segi indeksikalitas, penggunaan bahasa Kui sebagaibahasa warisan dapat digunakan untuk mengonstruksi identitas etnikorang Kui, yang membuat batas antara diri dengan liyan pada wilayahmultietnik. Ideologi bahasa orang Kui menunjukkan adanya kesadaranpentingnya bahasa Kui dalam konstruksi identitas. Namun, kesadaranitu merupakan kesadaran diskursif dan bukan kesadaran praktis.Performansi yang ditunjukkan ialah pentingnya menjadi komunitasbilingual, yang menguasai bahasa etnik dan basantara, Melayu Alor danbahasa Indonesia. Namun, bilingualism itu tampaknya kini bergerakmenuju monolingualisme pada kalangan anak-anak dan kelompokusia muda. Artinya, telah terjadi asimilasi kebahasaan pada kelompoktersebut.
Copyrights © 2011