Pembelajaran BIPA telah berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini. Lembaga-lembaga penyedia layanan BIPA tidak lagi berpusat di Pulau Jawa dan Bali serta wilayah-wilayah lain di Indonesia Barat, tetapi telah merambah ke wilayah Indonesia Timur, termasuk Maluku. Universitas Pattimura adalah satu-satunya lembaga penyelenggara program BIPA di Indonesia Timur yang telah membuka program BIPA sejak tahun 2016 yang lalu. Salah satu persoalan penting dalam penyelenggaraan program pembelajaran BIPA adalah mendapatkan bahan/buku ajar atau sumber belajar yang mengintegrasikan materi budaya lokal dalam kemahiran berbahasa. Sejauh ini, buku Sahabatku Indonesia yang ditulis dan diterbitkan oleh PPSDK Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud Republik Indonesia telah digunakan sebagai bahan ajar atau sumber belajar utama. Meskipun penggunaan buku tersebut sebagai sumber belajar telah cukup membantu dalam proses pembelajaran BIPA, selalu ada persoalan yang muncul, berkaitan dengan representasi kemajemukan budaya Indonesia, yakni tentang materi budaya lokal, termasuk anasir-anasir budaya di wilayah Indonesia Timur yang belum termuat secara proporsional. Padahal, wilayah Indonesia Timur termasuk Maluku memiliki budaya yang sangat kaya, beragam, dan berbeda dengan wilayah Indonesia Barat. Hal itulah yang membentuk kemajemukan Indonesia sebagai kekayaan dan menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Pada sisi inilah, para pengajar BIPA mengalami kesulitan tersendiri untuk mengajarkan materi budaya dalam kemahiran karena aspek budaya yang terkandung dalam buku tersebut terbatas pada anasir budaya Indonesia yang dianggap sebagai budaya arus utama. Makalah ini secara kritis akan membentangkan persoalan tersebut, termasuk menunjukkan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menciptakan materi ajar yang memberikan ruang pada anasir budaya lokal secara lebih leluasa.
Copyrights © 2020