Disrupsi, lebih dari sekedar gangguan terhadap kemapanan, merupakansebuah peluang bagi inovasi pengetahuan dan perguruan tinggi. Denganmengacu pada pemikiran Christensen dan Fukuyama mengenai disrupsi, artikelini mencoba memperlihatkan dimensi kreatif dan inovatif ilmu pengetahuandan perguruan tinggi. Secara khusus, artikel ini menyampaikan 5 tesis pentingtentang dimensi inovatif disrupsi, yaitu, disrupsi mendorong pemberontakanterhadap dogmatisme dan moralitas yang koruptif dalam pengembangan ilmupengetahuan, menaruh perhatian pada dimensi non-kognitif pengembanganilmu pengetahuan, memberikan perhatian pada learning skill daripadapengembangan pengetahuan dalam kurikulum pendidikan tinggi, mendorongkerjasama interdisipliner dan multikultural, dan mendorong penelitian menaruhperhatian pada masalah-masalah fundamental. Disruption, more than a disturbance to a system and habit, is anopportunity for innovation. By reference to Christensen and Fukuyama’s thoughtson disruption, this article tries to trace out the creative and innovative dimensions ofscience and higher education. In particular, this article presents 5 important theses onthe innovative dimension of disruption, that are: it encourages the rebellion againstdogmatism and moral corruption in the development of science; pays attention to thenon-cognitive dimension of science development; urges the learning skills rather thandeveloping knowledge in the higher education curriculum; encourages interdisciplinaryand multicultural collaboration; and lastly, promotes the fundamental issues inscientific research.
Copyrights © 2018