Wayang sebagai seni pertunjukan merupakan media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek agama dan budaya sudah dikenal sejak jaman pra Hindu. Ritual bayang-bayang dalam kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan praktek budaya dan agama untuk memuja roh nenek moyang. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pertunjukan wayang sebagai media komunikasi simbolik dalam praktek budaya dan agama di Bali. Permasalahan yang diangkat melalui penulisan ini adalah ingin menginvestigasi apakah pertunjukan wayang dalam praktik budaya dan agama di Bali, dipahami dan dihadirkan sebagai ujud pemujaan pada kekuatan gaib sebagai perkembangan dari tradisi pra Hindu. Metode yang digunakan untuk mengkaji masalah di atas adalah metode penelitian kualitatif dengan teori interaksi simbolik dan komunikasi. Penulisan ini ingin menunjukan bahwa wayang sebagai media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek budaya dan agama di Bali telah dilakukan sejak jaman pra Hindu dan masih dipertahankan oleh orang Bali sampai sekarang. Kekuatan gaib yang dapat mengganggu manusia masih dipercaya oleh masyarakat Bali, terutama pada anak yang lahir pada tumpek wayang, sehingga perlu diruwat (dibersihkan) gangguan itu dengan wayang sapuh leger.
Copyrights © 2019