Pendidikan agama yang dilakukan pesantren memiliki peran yang besar dalam mengembangkan teologi multikultural. Meminjam filosofi pendidikan, pendidikan untuk pembebasan bukanlah untuk penguasaan (dominasi). Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan sosial-budaya. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu, secara metodologis bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas.Karena itulah, tantangan pesantren tidak lagi berkutat pada pemberdayaan sumber daya manusia, dengan membuat program, seperti kursus-kursus kerajinan dengan perkakas, peralatan, dan mesin-mesin, menjahit, pertukangan kayu, perabot rumah tangga, tani dan kebun, las dan teknik elektro. Poesantren kini dihadapkan pada tantangan multikulturalisme yang menjadi kenyataan sosial.
Copyrights © 2021