Dry eye adalah penyakit air mata dan lapisan permukaan mata yang bersifat multifaktorial. Gejala klinis meliputi rasa tidak nyaman, ketidakstabilan tear film dan gangguan penglihatan. Faktor-faktor risiko dry eye yaitu usia, jenis kelamin, paparan AC, penggunaan gadget, dan lama membaca buku. Mahasiswa kedokteran sering melakukan aktivitas digital, membaca yang lama dan intensif serta berada dalam ruangan dengan air conditioner (AC). Kegiatan tersebut mengurangi frekuensi berkedip dan muncul keluhan-keluhan dry eye. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko usia, jenis kelamin, paparan AC, penggunaan gadget dan lama membaca buku dengan kejadian dry eye pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectionaldengan melibatkan 35 responden mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah. Kuesioner Ocular Surface Disease Index digunakan untuk mendeteksi dry eye dan dilakukan pemeriksaan tear meniscus. Data dianalisis menggunakan uji chi square dengan nilai signifikansi p <0,05 dan CI 95%. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (68,6%), berumur ? 22 tahun, dengan rata rata usia 21,40±0.85 tahun, terpapar AC ? 3 Jam (80%), menggunakan gadget ? 3 Jam ( 97,1%), membaca buku ? 3 Jam ( 97,1%), didiagnosis sebagai dry eye (94,3%) dan masuk dalam kriteria mild (45,7%). Tidak terdapat hubungan yang siginifkan antara umur (p=1,00), jenis kelamin (p=0,536), penggunaan gadget (p=1,00) dan membaca buku (p=1,00) dengan kejadian dry eye. Terdapat hubungan yang signifikan antara paparan AC dengan kejadian dry eye (p =0,00).
Copyrights © 2021