Media pembelajaran di pondok pesantren umumnya menggunakan media yang sangat sederhana, bahkan jauh dari kata maju. Melalui kegiatan pembelajaran ini, materi ajar dapat sampai kepada dengan baik, bukan hanya sekedar doktrin saja akan tetapi juga dengan pembentukan karakter dan sikap kritis. Yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah aktor yang bernama guru. Peningkatan Kompetensi di berbagai bidang menjadi tuntutan bagi seorang guru saat ini, seiring dengan kompleksitas dari santri. Pondok Pesantren Kun Karima menjadi fokus dalam penelitian ini karena menunjukkan kecenderungan sangat adaptif terhadap perkembangan terkini, terutama pada santri. Akses yang sangat besar terhadap sumber-sumber digital melalui kebiasaan menggunakan smartphone menjadi pemicu loncatan kritisisme santri. Sehingga guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi pembelajaran, tetapi telah tersandingkan dengan sumber-sumber digital. Sehingga masalah yang dapat diajukan adalah "bagaimana iklim pembelajaran di tengah suasana serba digital? bagaimana kesiapan guru dalam menanggapi animo digital santri? bagaimana dukungan kebijakan pondok dalam konteks pembelajaran era digital?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana peneliti menjadi instrumen utama dalam melakukan pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan mengkaji dokumen. Data dianalisis melalui proses reduksi, display, dan verifikasi. Selanjutnya dilakukan member check, trianggulasi, perpanjangan pengamatan dan meningkatkan ketekunan. Hasil penelitian menunjukkan iklim belajar Pendidikan Agama Islam tidak menentu dan tidak kondusif, rendahnya kesiapan guru PAI dalam menghadapi percepatan perkembangan santri, dan kebijakan sekolah belum terumuskan dengan baik dalam kontek pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Copyrights © 2021