Pengasuhan anak di banyak budaya memberi gambaran peran gender yang paling timpang. Pengasuhan dianggap sebagai perpanjangan peran biologis perempuan yang telah hamil dan melahirkan. Sejak zaman Hunter-Gatherer pengasuhan anak menjadi tugas perempuan (ibu) karena dia telah hamil, melahirkan, dan menyusui. Tidak jarang tugas pengasuhan dan perawatan anak dilegitimasi oleh norma budaya, dimana kaum laki-laki "terlarang" memasukinya. Tugas merawat, membersihkan kotoran, memberi makan anak, taboo dilakukan oleh laki-laki (ayah) dan dianggap merendahkan martabat kelaki-lakian. Islam sejak awal menekankan bahwa sesungguhnya beban pengasuhan terletak dipundak kedua orang tua (fa abawaahu) bukan hanya dipundak ibu. Dengan menggunakan teori perubahan sosial, tulisan ini akan mengungkap bagaimana bentuk pergeseran relasi gender dalam pengasuhan anak itu terjadi. Terjadinya pandemik yang memaksa semua orang kembali ke rumah, telah memaksa peran pengasuhan kembali menjadi beban bersama ayah dan ibu.
Copyrights © 2021