Penelitian ini beranjak dari kekhawatiran penulis terkait kesenjangan pengetahuan masyarakat Sasak di Lombok Tengah terhadap makna simbol kebudayaan miliknya sendiri. Kesenjangan pengetahuan tidak hanya di alami para pemuda tetapi juga masyarakat yang tergolong sudah tua. Dampaknya tentu pada hilangnya bahasa dan nilai-nilai positif, luhur dalam kebudayaan menggunakan warige. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari pengaruh perkembangan budaya instan serta tidak adanya sumber informasi yang bisa dipelajari untuk diketahui melalui pendidikan formal maupun non-formal. Penelitian ini mengandung deskripsi makna dalam simbol kebudayaan warige beserta solusi dalam bentuk skema literasi untuk mempertahankan bahasa khususnya dalam kebudayaan masyarakat Sasak. Penulis dalam kajian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik sekaligus memadukannya dengan teori makna dengan tujuan menghasilkan formulasi akhir hubungan pemertahan bahasa dan budaya masyarakat Sasak. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode cakap dengan teknik cakap semuka, serta dikombinasikan dengan teknik rekam dan teknik catat. Berdasarkan pengkajian objek penelitian ditemukan data angka dan arah mata angin serta sebagai simbol yang memiliki makna unik dalam kehidupan masyarakat Sasak, desa Perina, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara barat.
Copyrights © 2021