Semua anak membutuhkan kesempatan untuk belajar pada potensi tertinggi mereka padalingkungan yang mencakup semua. Bahasa merupakan faktor penting dalam berkomunikasi,mempelajari ilmu pengetahuan dan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, tidak setiap anakdapat menguasai kemampuan berbahasa dengan mudah. Hal tersebut dikarenakan oleh faktorbawaan, misalnya pada anak-anak tuna rungu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Tempat penelitian berada di SLB Negeri Semarangdengan informan yaitu guru yang mengajar dengan MMR untuk anak tunarungu di kelaspersiapan. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi sertadokumentasi. Analisis data menggunakan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SLB Negeri Semarang adalah Sekolah LuarBiasa yangdirintis mulai tahun 2004. Penerapan MMR di SLB Negeri Semarang sudah terlaksana denganbaik. MMR dilaksanakan dengan tiga tahap yang terdapat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasisehingga hasil atau target yang dicapai sesuai dengan tujuan yang akan telah dimaksudkan. Haltersebut sudah memenuhi pedoman dalam pelaksanaan MMR yang sebenarnya.Hasil penelitian tersebut menemukan fakta bahwa pemerintah belum membuat kurikulum atauketetapan yang jelas terhadap pembelajaran bagi anak tunarungu. Penulis menyarankan supayapemerintah dapat menetapkan kurikulum dan patokan yang jelas bagi anak tunarungu denganmenggunakan Metode Mathernal Reflektif (MMR). Dengan demikian penerapan MetodeMathernal Reflektif (MMR) dapat mencapai hasil yang diinginkan dan dapat meningkatkankemampuan anak
Copyrights © 2012