Aristotle’s conception of εὺδαιμονια is identical with Psalmist’s (Psalm 1) conception of happiness vizἐνέργεια. According to Aristotle, human’s εὺδαιμονια is ἐνέργεια of the rational element of a human being by its ἀρετη viz. ἀρίστην καὶ τελειοτάτην. Psalmist, on the other hand, shows that happiness is contemplating Torah every moment. In this paper, I will show that we can understand Psalmist’s conception of happiness more accurately by using Aristotelian Ethics. I will then suggest by using Aristotelian reading on Psalm I that Christian Education viz. Theology should pursue εὺδαιμονια as its end.AbstrakKonsep εὺδαιμονια Aristoteles dan kebahagiaan Pemazmur (Mazmur I) memiliki kesamaan pada definisi bahwa εὺδαιμονια dan kebahagiaan adalah sebuah ἐνέργεια. Menurut Aristotle, εὺδαιμονια manusia adalah ἐνέργεια elemen rasional manusia bersesuaian dengan ἀρετη-nya, secara spesifik ἀρίστην καὶ τελειοτάτην. Sementara itu Pemazmur menunjukkan bahwa formulasi kebahagiaan adalah merenungkan Torah sepanjang waktu. Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa dengan menggunakan kacamata Etika Aristotle kita bisa memahami konsep kebahagiaan Pemazmur secara lebih mendalam. Melalui pemahaman Mazmur I secara Aristotelian pula saya menyarankan bahwa pendidikan Kristen, secara khusus Teologi harus menjadikan εὺδαιμονια sebagai tujuan akhirnya.
Copyrights © 2018