Pemuda-pemudi (Naposo Nauli Bulung) adalah penerus generasi bangsa dan agama, mereka menjadi estapet pembangunan, hal itu tidak bisa diharapan tanpa pembekalan ilmu, skil dan ketahanan mental yang terdapat dalam ruh agama. Tentu tidaklah ada orangtua yang berkeinginan anaknya bodoh, bandel, bringas, amoral dan generasi yang hancur akibat pengaruh lingkungan, narkoba dan penyalahgunaan media teknologi baik berupa handphone dan eletronik lainnya sebagai imbas dari globalisasi yang bebas nilai. Kewajiban Naposo Nauli Bulungpun (NNB) sepanjang adat istiadat harus mereka laksanakan baik pada Siriaon (Pesta ria) maupun di Siluluton ( Kemusibahan) yang tampaknya semakin pudar dan terkikis kondisi zaman. Namun setelah di teliti di lapangan Naposo Nauli Bulung seolah mati suri, apakah masih ada harapan sadar dan bangkit dari kemati suriannya lalu tegak berdiri, kekar dan mampu bergegas dan membangun kembali nilai-nilai dan budaya yang baik selama ini. Tujuan penelitian ini diharapkan nantinya dapat mengungkap kembali tradisi keagamaan dan kegiatan sosial keagamaan yang telah menjadi bagian dari kepribadian Naposo Nauli Bulung di daerah Tapanuli Bagian Selatan (TABAGSEL). Berbagai problematika yang dialami oleh Naposo Nauli Bulung sebagai bagian dari komunitas pemuda dalam kegiatan sosial keagamaan, melihat akar masalah dan ingin membangkitkan kembali nilai nilai yang baik pada praktik sosial keagamaan yang integratis dengan adat istiadat sebagai kearifan lokal. Temuan Kegiatan sosial keagamaan Naposo Nauli Bulung mengalami pergeseran akibat globaisasi teknologi, kurangnya Pembina/motivator NNB dan tidak ada sumber yang jelas mengakibatkan kegiatan tidak berjalan dengan baik.
Copyrights © 2021