Manusia sebagai obyek dakwah adalah makhluk yag berfikir, berperasaan dan berkehendak. Pikirannya dipengaruhi oleh apa yang dirasakan dan apa yang dikehendaki, perasaannya dipengaruhi oleh apa yang dipikir dan apa yang dikehendaki, kehendaknya juga dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan apa yang dirasakan. Manusia juga memiliki banyak potensi diri yang belum digali. Upaya mengenali dan mengembangkan potensi manusia senantiasa berjalan dalam proses yang berkelanjutan. Seperti halnya kecerdasan sebagai salah satu potensi manusia, dimulai dari ditemukannya IQ (Intellectual Quotient) kemudian berkembang dengan ditemukannya kecerdasan-kecerdasan lain, seperti EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient), MI (Multiple Intelligences), SQ (Spiritual Quotient), FQ (Finansial Quotient) dan Kecerdasan Kenabian (Prophetic Intelligence) yang bertumpu pada hati nurani yang bersih dari penyakit ruhaniah, yaitu syirik, kufur, nifaq dan fasik. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur (library research) dan analisis terhadap fenomena psikologi dakwah dalam perspektif dakwah digital. Pendekatan studi literature atau kajian kepustakaan ini dilakukan dengan membaca dan mengumpulan literatur terkait dan referensi teori yang berkaitan dengan permasalahan penelitian dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, dokumentasi, dan data di internet. Selanjutnya pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis. Seorang da’i dituntut menguasai tentang kejiwaan manusia dalam proses kegiatan dakwah (psikologi dakwah) sebagai individu maupun anggota kelompok. Esensi dakwah sebenarnya terletak pada usaha pencegahan dari penyakit-penyakit masyarakat yang bersifat psikis dengan cara mengajak, memotivasi, merangsang serta membimbing individu agar sehat dan sejahtera jiwa, ragan dan spritualnya, serta mad’u mampu mengasah Kecerdasan Kenabian. sehingga mereka dapat menerima ajaran agama. Terlebih saat ini, dimana dakwah melalui digital menjadi upaya yang vital.
Copyrights © 2021