Urgensitas pemahaman terhadap makna dalam sebuah ujaran begitu sangat terasa, baik pada skala teks maupun konteks. Sebab, sejatinya amanat dalam proses komunikasi harus terterjamahkan secara utuh (ÙƒØ§ÙØ©), baik pada sisi bentuk (مبنى) maupun dalam dimensi isi (معنى), sehingga tujuan dan pesan dalam tuturan penutur kepada mitra tutur dapat tersampaikan. Hanya saja, penelusuruan makna ini tidak cukup cuma diraba lewat kajian semiotik, dan sintaksis belaka, namun harus beranjak lebih lebar kepada studi semantik, dan pragmatik atau dalam konteks bahasa Arab bukan saja gramatika Arab, dan morfologi Arab, tetapi harus lebih bergeser kepada kajian ma’Äni. Salah satu hal nyata dalam struktur bahasa yang memerlukan analisa konteks di luar bentuk kebahasaan adalah gejala deiksis. Memahami acuan dalam deiksis dengan pendekatan gramatikalisasi unsur-unsur (feature) dari konteks ujaran (contex of uttereance) atau peristiwa tutur (speech event) merupakan langkah yang wajib niscaya. Makanya, perolehan refren deiksis sangat bergantung terhadap kepiawaian dan tingkat sensitifitas seseorang menangkap konteks yang melingkupi ujaran yang diucapkan. Pada tataran inilah, kajian semantik-pragmatik atau ma’Äni (dalam bahasa Arab) dalam konteks eksplorasi makna pada deiksis menjadi bagian yang tidak boleh dipandang sebelah mata.  Kata kunci: makna, semantik-pragmatik, ma’Äni, deiksis. Â
Copyrights © 2014