Infeksi daerah operasi (IDO) merupakan salah satu infeksi terkait pelayanan kesehatan yang paling banyak ditemukan, dengan insidensi mencapai satu dari 3 pasien yang menjalani operasi. Pemberian antibiotik perlu dilakukan secara rasional untuk memaksimalkan efikasi serta mencegah perkembangan resistensi antimikroba. Penelitian terkait IDO pada pasien bedah anak akan dapat membantu para pemangku kebijakan untuk menentukan langkah yang paling efektif dalam pencegahan IDO. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif, yang melibatkan rekam medik pasien anak yang menjalani prosedur bedah invasif pada periode 1 Juli hingga 31 Desember 2023 di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah rasionalitas dari terapi antibiotik profilaksis yang diberikan kepada pasien bedah anak, dan luaran klinis berupa kejadian IDO. Rasionalitas antibiotik profilaksis dinilai dengan algoritma Gyssens, mengacu pada seri tatalaksana pencegahan IDO yang diterbitkan oleh POP-NeoPed Study Group dan tatalaksana antibiotik profilaksis oleh American Society of Health-System Pharmacists (ASHP). Luaran klinis berupa kejadian IDO ditentukan dengan kriteria yang disusun oleh CDC. Data dari 268 terapi antibiotik profilaksis pada pasien bedah anak, terdapat 33 terapi (12,31 %) yang masuk ke dalam kategori VI (data tidak lengkap), 94 terapi (35,07 %) yang masuk ke dalam kategori V (tidak ada indikasi pemberian antibiotik), 2 terapi (0,75 %) yang masuk ke dalam kategori IVd (ada antibiotik lain yang spektrumnya lebih sempit), 125 terapi (46,64 %) yang masuk ke dalam kategori IIa (tidak tepat dosis), dan 14 terapi (5,22 %) yang masuk ke dalam kategori I (tidak tepat waktu pemberian).
Copyrights © 2025