Era reformasi membawa kebebasan dan keterbukaan dalam kehidupan sosial, politik, dan keagamaan bagi bangsa Indonesia. Kondisi ini memicu munculnya kontestasi identitas agama dalam kehidupan sosial di tingkat nasional maupun regional. Prosesnya tidak hanya dilakukan masyarakat, tetapi juga melibatkan aktor-aktor yang di antaranya adalah para gubernur, bupati, dan wali kota. Wujud kontestasi itu antara lain berupa konstruksi identitas regional dan lokal yang menggunakan simbol-simbol agama. Di wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya di pulau Lombok konstruksi identitas Islam diwujudkan dalam bentuk pembangunan Islamic Center di kota Mataram. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peran yang sangat besar dari sang gubernur, yaitu Dr. TGH. Zainul Madjdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) dalam pembangunan Islamic Center di Mataram Lombok. Peran itu diwujudkan dalam berbagai bentuk, yaitu dukungan dana dalam APBD NTB tahun 2011-2014, penggalangan dana masyarakat, dan peran dalam manajemen dan pengelolaan. Berkat komitmen yang kuat dari TGB, gagasan untuk membangun Islamic Center yang telah bergulir semenjak kepemimpinan tiga gubernur sebelumnya dapat diwujudkan. Komintennya itu diwujudkan dengan dukungan dana dari APBD NTB sepanjang periode pertama kepemimpinannya. Selanjutnya untuk menjamin keberlangsungannya, TGB juga membentuk UPT Islamic Center sebagai unit yang bertanggung jawab mengelola Islamic Center.
Copyrights © 2018