Jurnal Sains Dirgantara
Vol 19, No 1 (2022)

Perubahan Temperatur setelah Letusan Pinatubo 1991 dari Luaran Model CMIP5 dengan Analisis Neraca Energi

Rahma Alfina Salsabila (Institut Teknologi Bandung)
Rusmawan Suwarman (Institut Teknologi Bandung)
Muhammad Rais Abdillah (Institut Teknologi Bandung)



Article Info

Publish Date
09 Jun 2022

Abstract

Letusan Pinatubo 1991 memberikan dampak signifikan terhadap anomali temperatur global pasca letusan yang terlihat, baik dari observasi maupun hasil luaran The fifth phase of the Coupled Model Intercomparison Project (CMIP5). Dalam penelitian ini kami mengkaji perubahan temperatur setelah letusan Pinatubo 1991 dengan analisis neraca energi yang difokuskan pada wilayah Benua Maritim dengan luaran model CMIP5. Variabilitas iklim tiga model CMIP5 dievaluasi dengan dataset observasi untuk menentukan model yang paling representatif. Perhitungan anomali saat kejadian letusan Pinatubo dilakukan pada model terpilih, dengan menghilangkan efek ENSO terlebih dahulu. Kemudian, analisis perubahan temperatur rata-rata wilayah dengan neraca energi permukaan pada tahun 1989 – 1993 menunjukkan bahwa terjadi penurunan temperatur yang berlangsung selama 24 bulan sampai akhir periode analisis setelah letusan terjadi. Nilai anomali negatif terbesar yaitu 0,37 °C. Berdasarkan pendekatan neraca energi dan radiasi, penurunan temperatur terlihat akibat anomali energi neto bernilai negatif, yang mencapai -2,93 W.m-2 pada satu tahun pasca letusan. Penurunan yang signifikan dari downwelling shortwave radiation, dengan nilai rata-rata anomali mencapai -3,70 W.m-2, berpengaruh besar pada nilai energi neto. Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh naiknya reflected shortwave radiation at Top of Atmosphere daripada efek penyerapan radiasi oleh aerosol di atmosfer.

Copyrights © 2022