Para Rasul tidak dapat dilepaskan dari aktivitas dakwah dan dakwah para rasul tersebut tidak dapat dipisahkan dari keragaman (pluralitas) masyarakat (al-Mad’u). Keragaman itu sendiri merupakan sunatullah yang juga tidak dapat dihindari, yang akan ada terus menerus berkembang. Dakwah mendapatkan tantangannya ketika berhadapan dengan pluralitas ummat. Ketika di Makkah, Nabi Muhammad Saw. dihadapkan dengan persoalan ini. Begitu pula ketika beliau membangun komunitas baru di Madinah. Hal serupa juga dialami oleh para pendahulunya, Ibrahim dan para rasul lainnya. Metode dakwah yang bagaimana yang sesuai dengan pluralitas masyarakat? Kajian ini didasarkan pada pendeketan tematik dan tekstolinguistik (‘ilm al-lughah al-nashshi) terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah Ibrahim (yang tersebar dalam 25 surat Al-Qur’an) dilihat dari perspektif model dakwahnya.
Copyrights © 2016