Aktivitas minum kopi telah menjadi sangat popular pada masyarakat seluruh dunia termasuk sebuah wilayah di kaki Pegunungan Hyang Barat tepatnya di Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, Kopi tidak hanya ada dalam jalinan historis desa, juga telah menjadi sumber penghidupan dan kebutuhan warga sejak dulu hingga kini, Keberadaan kopi telah menjadi urat nadi dengan dinamisasi perkembangan dari masa ke masa, memunculkan perubahan atau pergeseran makna didalamnya. Penelitian ini berangkat dari upaya analisis gejala masyarakat yang mempunyai kebiasaan terkait keberadaan simbol ‘kopi’ yang berfokus pada hakikat manusia sebagai makhluk relasional atas dirinya serta pensimbolan tersebut untuk lebih kritis, peka, aktif, dan kreatif dalam menginterpretasikan simbol yang muncul didalamnya. Alhasil, upaya tersebut menghasilkan proses perekonstruksian ejawantah makna sebagaimana tertuang dalam interpretasi penyimbolan ‘kopi’ dalam makna keseharian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis untuk melihat ‘world view’ subyek penelitian dengan perpektif interpretative ala ‘verstehen’ Max Weber terkait ‘makna’ (sinn). Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna atas kebiasaan minum kopi pada Orang Bermi dalam 2 hal berikut: (1) Terjadinya perubahan makna ‘minum kopi’ yang merupakan keniscayaan dalam upaya penyelarasan komunitas atas perubahan dan perbedaan zaman yang terjadi, sekaligus bentuk bertahan sebuah aktivitas yaitu ‘ngopi’; (2) Pergeseran makna terjadi secara alamiah dalam kurun waktu yang lama (evolutif) sehingga dampak pergeseran makna tersebut mampu berjalan seiring dengan keberadaan sistem sosial Desa Bermi serta relatif tidak menyebabkan disharmoni sistem hingga saat ini, bahkan sangat antisipatif terhadap prediksi perkembangan zaman kedepan.
Copyrights © 2022