Komunikasi masih menjadi hambatan dalam proses penanganan masalah kemiskinan bagi penerima kartu pra-kerja di kabupaten Asahan Sumatera Utara. Komunikasi yang tidak efektif berimbas pada ketidak tahuan penerima kartu prakerja tentang kegunaan kartu tersebut, terutama terkait dengan kewajiban mereka dalam mengikuti berbagai pelatihan yang sudah diinstruksikan. Selain itu, banyak peserta juga memilih program pelatihan yang tidak sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki dan tidak sejalan dengan minat mereka. Secara tidak langsung kegagalan ini berdampak pada peningkatan kompetensi penerima manfaat kartu pra-kerja ini. Komunikasi yang efekti sangat penting sebagai dasar penumbuhan kesadaran sekaligus pengetahuan mereka. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti melakukan wawancara terhadap masayarakat yang menerima kartu pra kerja dan kepada pemangku kepentingan pengambil kebijakan di kabupaten Asahan yaitu Dinas Ketanaga kerjaan.
Copyrights © 2022