Baliho di Indonesia biasa digunakan sebagai sarana promosi diri, baik untuk sosok seperti politikus maupun lainnya. Penggunaan baliho dengan tujuan ini pun juga diaplikasikan pada baliho ‘kepak sayap kebhinnekaan’ Puan Puan Maharani yang pada tahun 2021 lalu sempat menimbulkan kontroversi terkait regulasinya. Terlepas dari itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis tanda-tanda sebagaimana yang dimaksud dalam semiotika yang terdapat dalam baliho tersebut dengan menggunakan teori trikotomi tanda yang dikemukakan oleh Pierce dan lebih lanjut untuk mengungkap tujuan penggunaan tanda tersebut yang didasarkan pada pemaknaan tandanya. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa terdapat setidaknya 8 tanda yang memiliki spesifikasi trikotomi tanda yang berbeda-beda. Pemilihan tanda secara selektif pada baliho tersebut juga kemudian secara keseluruhan dapat mempromosikan PDI Perjuangan dan merepresentasikan sosok Puan Maharani sebagai Individu dan pejabat publik berhati bersih dan berbudaya sebagaimana yang mungkin memang ingin ditekankan oleh mereka.
Copyrights © 2022