Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran
Vol 9, No 1 (2020): Bahasa, Sastra, dan Pengajaran

Intertekstual Dekonstruktif Novel Lambung Mangkurat atas Hikayat Banjar dan Tutur Candi

Dewi Alfianti (Universitas Lambung Mangkurat)
Ahsani Taqwiem (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Apr 2020

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui interteksualitas dan dekonstruksi novel “Lambung Mangkurat”, dan dua hipogramnya, “Hikayat Banjar” dan “Tutur Candi”. Penelitian dilakukan menggunakan analisis intertekstual model Julia Kristeva dan dekonstruksi Jaqcues Derrida. Hasil analisis menunjukkan ada sejumlah perbedaan pada bagian jalan cerita dan penokohan. Pada novel tidak ada hal-hal gaib, berbeda dengan dalam kedua hipogram. Tokoh Lambung Mangkurat dan Junjung Buih dalam novel diberi atribut serba sempurna sementara di dalam novel muncul dengan segala kekurangan dan kelemahan sebagaiman manusia biasa yang memiliki ambisi, kelemahan, dan ketakutana yang di dalam dua hipogram tidak ada. Di dalam novel Lambung Mangkurat diceritakan berhasil menjadi Raja Nagara Dipa berkat bantuan Gajah Mada, juga dicerita terjadi pemberontakan Kerajaan Kuripan yang di dua hipogram tidak. Perbedaan ini terjadi sebagai upaya pengarang untuk menafsirkan ulang dan memaknai kembali cerita Lambung Mangkurat dalam perspektif yang lebih  sesuai dengan zamannya.Kata kunci: dekonstruksi, intertekstual, Lambung MangkuratThis paper aims to find out the intertextuality and deconstruction of the novel "Lambung Mangkurat", and its two hypograms, "Hikayat Banjar" and "Tutur Candi". The study was conducted using intertextual analysis of Julia Kristeva's model and Jaqcues Derrida's deconstruction. The analysis shows that there are a number of differences in the part of storyline and characterizations. In the novel, there are no supernatural things, different from the two hipograms. The characters of Lambung Mangkurat and Junjung Buih in the novel are represented as perfect characters while in the novel they appear with all the weaknesses and limitations as ordinary human beings who have ambition, weakness, and fear which do not exist in the two hypograms. In the novel, Lambung Mangkurat succeeded in becoming Raja Nagara Dipa with the help of Gajah Mada, there was also a story of rebellion of Kingdom of Kuripan which does not appear in two hypograms. This difference exists as the author's attempt to reinterpret and reconstrue the story of Lambung Mangkurat in a perspective that is more appropriate to the era.Keywords: deconstructive, intertextual, Lambung Mangkurat 

Copyrights © 2020






Journal Info

Abbrev

ajbsi

Publisher

Subject

Arts Humanities Education Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Alinea is a scientific journal published by Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Suryakancana that covers various issues related to the learning of bahasa Indonesia. The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that ...