This study aims to find triggers for trauma, responses to trauma, and forms of trauma reconciliation experienced by the subject in the short story entitled “Ave Maria”. Therefore, this study bases its analysis on the short story “Ave Maria” using Cathy Caruth's point of view regarding the concept of trauma. This study found that the trauma experienced by the subject, Zulbahri, was a past event that brought the pain back because it was triggered by the presence of his younger brother, Syamsu, who interrupted the subject's safe space. In addition, the song “Ave Maria” in the short story also becomes a trauma site that reminds the subject of a traumatic event that creates crisis and vulnerability to the subject. The traumatic event that haunts the subjects responded with an unconscious display of shame and guilt. The subject carried out efforts to overcome trauma by staying away from the trauma-triggering site, distracting the mind with books, and sharing stories in a safe space. One last attempt to overcome the trauma chosen by the subject is to join the Jibakutai forces. This effort seems odd because it is prone to presenting another trauma in the form of war trauma to the subject.AbstrakPenelitian ini bertujuan mencari pemicu trauma, respons atas trauma, dan bentuk rekonsiliasi trauma yang dialami subjek dalam cerita pendek “Ave Maria”. Oleh karena itu, penelitian ini mendasarkan analisis terhadap cerpen “Ave Maria” dengan menggunakan sudut pandang Cathy Caruth tentang konsep trauma. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penulis menyimpulkan bahwa trauma yang dialami subjek, Zulbahri, merupakan peristiwa masa lalu yang kembali membawa luka yang dipicu oleh kehadiran sang adik, Syamsu, yang menginterupsi ruang aman subjek. Selain itu, lagu “Ave Maria” dalam cerpen juga menjadi suatu situs trauma yang mengingatkan subjek akan peristiwa traumatis yang menimbulkan krisis dan kerentanan. Peristiwa trauma yang menghantui subjek kemudian direspons dengan tampilan rasa malu dan rasa bersalah tanpa sadar. Upaya mengatasi trauma dilakukan oleh subjek dengan menjauh dari situs pemicu trauma, mengalihkan pikiran dengan buku, dan membagi cerita dalam ruang aman. Satu upaya mengatasi trauma terakhir yang dipilih subjek adalah ikut barisan jibakutai. Upaya itu tampak ganjil sebab rentan menghadirkan trauma perang terhadap diri subjek.
Copyrights © 2022