Agama dan kolonial merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan dalam perjalanan kebudayaan masyarakat di Indonesia. Dua hal tersebut datang secara bersamaan dengan misi kemanusiaan. Dokumentasi realita kehidupan terekam dalam berbagai bentuk, salah satunya seni sastra. Novel sebagai hasil karya manusia menjadi cerminan diri pengarang sekaligus menjadi bukti realita kehidupan. Novel Balada Dara-Dara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya mengisahkan tentang relasi agama Katolik dan kolonialisme di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam novel tersebut agama Katolik memiliki hubungan erat dengan kolonialisme Belanda. Hubungan itu terjalin secara sistematis di dalam Asrama Mendut untuk mengkonstruksi anak-anak pribumi. Agama Katolik dalam konteks ini dikonstruksikan sebagai agama yang mampu mengatasi takhayul. Selain itu, terdapat dua tokoh dalam novel Balada Dara-Dara Mendut yang merepresentasikan dimensi pascakolonialisme yaitu Maria Yohanna Sudarmi dan Rukmi. Kedua tokoh tersebut merepresentasikan wacana Barat dan Timur seperti yang terkandung dalam Orientalisme.
Copyrights © 2022