This study aims to bring out the corruption problems described in the poem, express messages to the readers contained in the description of the corruption problem, and reveal how the message was conveyed to the reader through poetry. In this study qualitative methods and literature were used with the socio-pragmatic approach. Data is taken from sources that have been published in print or online. Poetry used as data is corruption-themed poetry. Poetry is reviewed by analyzing the representation of social realities related to the problem of corruption in Indonesia, then analyzing the message and how to convey it to the reader. The results of this study indicate that the problem of corrupt corruptors through satire-sarcasm style is intended as persuasion to readers to reject corruption, the issue of mild legal sanctions for Indonesian corruptors compared to other countries is used to raise readers' awareness to think critically, the problem of bribery through allegory aims to strengthen awareness of corruption, and the problem of the impact of corruption in an ironic style of humor that is intended as a means of awareness to fight corruption. Kajian ini bertujuan mengemukakan masalah korupsi yang digambarkan dalam puisi, mengungkapkan pesan kepada pembaca yang terkandung dalam penggambaran masalah korupsi tersebut, dan mengungkapkan cara pesan tersebut disampaikan kepada pembaca melalui puisi. Dalam kajian ini digunakan metode kualitatif dan kepustakaan dengan pendekatan sosiopragmatik. Data diambil dari sumber yang telah dipublikasikan secara cetak maupun daring. Puisi yang dijadikan data adalah puisi bertema korupsi. Puisi dikaji dengan menganalisis representasi realitas sosial yang terkait dengan masalah korupsi di Indonesia, selanjutnya menganalisis pesan dan cara penyampaiannya kepada pembaca. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa masalah keburukan para koruptor melalui gaya satire-sarkas ditujukan sebagai persuasi kepada pembaca untuk menolak korupsi, masalah sanksi hukum yang ringan bagi koruptor Indonesia jika dibandingkan negara lain digunakan untuk membangkitkan kesadaran pembaca agar berpikir kritis, masalah maraknya budaya suap lewat alegori bertujuan menguatkan kewaspadaan terhadap korupsi, dan masalah dampak korupsi dengan gaya humor yang ironis dimaksudkan sebagai sarana penyadaran untuk memerangi korupsi.
Copyrights © 2019