Identitas selalu menjadi persoalan bagi keturunan Cina di Nusantara. Permasalahan identitas tersebut adalah akibat politik identitas yang dilakukan oleh kaum Belanda. Politik tersebut menempatkan kaum berkulit putih, Cina, sebagai kaum Timur Asing (Vreemde Oostrelingen) di tingkat kedua dan pribumi (Inlanders) berada di tingkat ketiga. Selanjutnya, pelabelan Cina sebagai asing menimbulkan pengaruh panjang dan menjadi sebuah kesadaran bersama bagi masyarakat Indonesia modern. Pribumi versus asing (Cina) adalah efek dari kolonialisme yang terjadi di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Gambaran tersebut didekonstruksi dalam Puti Cina, sebuah novel karya Sindhunata. Kajian ini menggunakan kajian poskolonial untuk mengungkap identitas pribumi dan asing (Cina), dan penindasan rasial terhadap keturunan Cina dalam novel Putri Cina. Identity problem always attaches to Chinese descendent in Nusantara. The problem is originated from identity politics treated by Dutch colonial. The politics places Chinese, the white, as the foreign East (Vreemde Oostrelingen) in second class and indigenous (Inlander) as third class society. Furthermore, Chinese labeling as foreigners has generated long impact and mass consciousness for modern Indonesian society. lndigenous versus foreigners (Chinese) is effect of long occupation of colonialism in Indonesia. Portrayal of the opposition is deconstructed in Putri Cina, a novel by Sindhunata. To reveal identity of indigenous and foreigners (Chinese) and race oppression to Chinese descendant in putri Cina, the study was conducted using postcolonial study.
Copyrights © 2012