Pendidikan inklusif merupakan salah satu cara untuk menjamin bahwa semua anak benar-benar memperoleh pendidikan dan pemeliharaan yang berkualitas dan layak. Di dalam model pendidikan inklusif, siswa-siswa dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi, ras, kondisi fisik dan psikologis belajar bersama-sama. Perbedaan individual diakui dan dihargai sehingga setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan, bakat dan minat mereka. Model pendidikan inklusif memberikan kesempatan terbaik bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Artikel ini mengkaji tentang intervensi yang dilakukan pada siswa Sekolah Dasar yang tergolong normal untuk membantu siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam memahami materi dan mengikuti proses belajar di sekolah Inklusif dengan baik, serta dapat lebih maksimal dalam mencapai atau memenuhi tugas perkembangannya. Setelah dilakukan intervensi, terdapat perubahan yaitu siswa-siswa yang tergolong normal mau membantu siswa yang tergolong ABK, adapula siswa yang tergolong ABK membantu teman yang juga tergolong ABK. Siswa-siswa lebih peka untuk saling membantu terutama pada mata pelajaran olahraga dan permainan yang dilakukan secara berkelompok. Siswa-siswa belajar bahwa keberhasilan kelompok dihasilkan dari kerja sama dan saling membantu antar anggota kelompok meskipun anggotanya berbeda-beda (ada yang tegolong normal dan ada yang tergolong ABK). Tidak semua siswa mengalami perubahan yang diharapkan dari intervesi ini. Ada siswa yang kurang peka, tidak mau membantu ataupun dibantu oleh temannya, dan lebih senang melakukan aktivitas sesuai keinginannya sendiri. Dengan demikian perlu dilakukan intervensi selanjutnya pada siswa-siswa agar dapat bekerja sama dan saling membantu.
Copyrights © 2022