Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam
Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER

PEREMPUAN PESISIR DALAM KESENIAN KUDA KEPANG TRI TUNGGAL JAYA LEMPUING KOTA BENGKULU

Agus Setiyanto (Universitas Bengkulu)
Suparman Suparman (FISIPOL UNIB)



Article Info

Publish Date
30 Dec 2022

Abstract

Kuda kepang merupakan salah satu produk kesenian tradisional masyarakat Jawa. Kuda kepang juga sering disebut kuda Lumping, jathilan, jarang kepang, eblek, jarang goyang,  dan mungkin masih ada istilah lainnya. Untuk masyarakat Sumatera khususnya Bengkulu, lebih popular dengan sebutan kuda kepang. Bentuk awalnya Kuda kepang merupakan sebuah tarian yang sederhana, tidak memerlukan keahlian dalam olah tari maupun  olah musik. Demikian juga dengan kostum dan tata riasnya.Properti yang dipakainya pun sederhana, berupa kuda-kudaan yang terbuat dari bilahan bambu (kepang) yang berbentuk seperti kuda. Oleh karena itulah kemudian lebih popular dengan nama “kuda kepang”. Musik pengiringnya juga sederhana, yaitu hanya terdiri atas, gong dua buah,  kenong dua buah, kendang, dan terompet. Para penarinya pun semula dilakukan oleh oleh kaum laki-laki saja. Kemudian dalam perkembangannya, para penarinya sudah banyak di dominasi kaum perempuan. Para perempuan pesisir ini pada mulanya hanya sebagai penggembira – penonton pasif dalam setiap pertunjukan Kuda Kepang. Tetapi seiring dengan dinamika zaman, kaum perempuan mulai bergabung dalam kesenian Kuda Kepang Tri Tunggal Jaya.  Sebagian dari mereka ada yang ikut ambil bagian sebagai tukang masak, tukang cuci pakaian (kostum), bagian perlengkapan, dan lain sebagainya.  Persisnya sejak kapan kaum perempuan bergabung dalam kesenian Kuda Kepang sulit dipastikan.

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

twt

Publisher

Subject

Religion Humanities Social Sciences

Description

Jurnal kajian kebudayaan Islam yang mencakup tiga wujud yaitu ide, sistem sosial & benda. Sedangkan model kajian sejarah Islam Indonesia dan dunia ialah original history dan reflective history. ...