Hegemoni kolonialisme yang ada di dunia Muslim, termasuk Indonesia, telah melahirkan berbagai persolan yang cukup kompleks. Karena selain adanya pengekangan terhadap aktivitas ritual-keberagamaan, pendidikan juga menjadi target Kolonial untuk dibekukan. Akan tetapi, di Indonesia proses ini justru tidak bisa dilakukan oleh para Kolonial, karena dominasi kaum intelektual Muslim Indonesia yang “tidak rela” dengan kehadiran Kolonialisme di Indonesia. Kaum intelektual Muslim Indonesia pada saat itu, mencoba membentuk organisasi-organisasi Islam sebagai media penyadaran umat Islam. Yang menjadi menarik pada masa ini adalah adanya perbedaan semangat perjuangan antara satu organisasi dengan organisasi Islam lainnya, sehingga membentuk sebuah “watak” atau model yang berbeda pula dalam melakukan penyadaran umat Islam tersebut. Organisasi-organisasi seperti Jamiat Khair, Persyarikatan Ulama’, Muhamadiyah dan NU serta yang lainnya, memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam melakukan tranformasi penyadaran umat. Hal ini, selain latar belakang pendirinya yang berbeda juga karena respon terhadap persoalan yang dihadapi oleh masing-masing organisasi juga memiliki perbedaan. Muhamadiyah yang memiliki basis perkotaan dan kaum intelektual, sangat berbeda dengan NU yang mempunyai basis pedesaan dan kaum agraris yang terbiasa dengan tradisi mistiknya.
Copyrights © 2022