Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat
Vol 5, No 1 (2022): MEI 2022

Pengembangan Growol Sebagai Oleh-Oleh Makanan Khas Tradisional Kulon Progo

Fatkurrohman Fatkurrohman (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Sidiq Wicaksono (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Eska Nia Sari Nastiti (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Handayani Rahayuningsih (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Arina Pramusita (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Anik Nuryani (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)
Cerry Surya Pradana (Prodi Pariwisata, DBSMB, SV, UGM)



Article Info

Publish Date
15 Feb 2023

Abstract

ABSTRAK. Keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta dan pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur menjadi modal penting bagi Kabupaten Kulonprogo untuk mengembangkan wisata kulinernya dalam rangka pengembangan ekonomi masyarakat. Salah wisata kuliner warisan leluhur Kulonprogo adalah growol. Makanan growol sudah tercatat dalam serat Centhini pada tahun 1814. Meski menjadi kuliner leluhur, growol memiliki beragam permasalahan dalam  pengembangannya yakni  bau makanan yang kurang sedap, kemasan yang tidak menarik, variasi produk yang rendah, dan manajemen yang masih tradisional. Permasalahan tersebut membuat growol tidak disukai oleh masyarakat dan mengalami penurunan popularitas yang sangat besar sehingga masyarakat saat ini tidak mengenal growol lagi. Tim pengabdian dari Diploma 3 Kepariwisataan merancang solusi untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut dan mengenalkan produk growol kembali ke pasar. Hasil dari pendampingan masyarakat adalah produk growol telah dikenalkan kembali kepada masyarakat dengan variasi dari produk yang lebih beragam dan sarana promosi yang telah diperbaiki seperti foto produk yang telah diolah secara profesional, pembuatan logo dan kemasan yang lebih menarik. Selain itu, perhitungan biaya produksi yang lebih rinci membuat harga produk lebih rasional dan dapat menghasilkan keuntungan bagi masyarakat. Kata Kunci: Bandara Internasional Yogyakarta, Kulonprogo, Wisata Kuliner, Makanan Tradisional dan Growol. ABSTRACT The existence of Yogyakarta International Airport and the development of the National Tourism Strategic Area (KSPN) of Borobudur are important assets for Kulonprogo Regency to develop its culinary tourism in the context of community economic development. One of the heritage culinary tours of Kulonprogo is growol. Growol food was recorded in Centhini's fiber in 1814. Despite being an ancestral culinary delicacy, growol has various problems in its development, namely the unpleasant smell of food, unattractive packaging, low product variety, and traditional management. This problem has made growol not liked by the community and has decreased its popularity so much that the people currently do not recognize growol anymore. The community service team of Diploma 3 in Tourism devises a solution to solve these problems and introduce growol products back to the market. The result of community assistance is that growol products have been reintroduced to the community with a wider variety of products and improved promotional tools such as product photos that have been professionally processed, making logos and more attractive packaging. In addition, a more detailed calculation of production costs makes product prices more rational and can generate benefits for society. Keywords: Yogyakarta International Airport, Kulonprogo, Culinary Tourism, Traditional Food  and Growol. 

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

jp2m

Publisher

Subject

Humanities Education Environmental Science Languange, Linguistic, Communication & Media Library & Information Science

Description

The purpose of this journal is to disseminate ideas and results of research conducted by universities, especially UGM, which can be applied in the community. JP2M generally focuses on several issues as follows: 1. Community empowerment training in food security, energy, economy, health, local ...