Artikel ini bertujuan mendiskusikan dimensi sosiologis novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru, khususnya terkait kritik kemanusiaan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Hasil kajian menunjukkan bahwa karya fiksi ini mengingatkan kembali memori kehidupan sosial dan budaya terkait pembantaian dukun santet tahun 1998 di Banyuwangi, berupa mediasi estetis dengan mengaktifkan memori historis, baik individu maupun kelompok yang mengalaminya secara langsung atau tidak langsung. Pengarang mengemas narasi dengan budaya lokal, termasuk berbagai tradisi seperti tradisi Gredhoan, ritual Kebo-keboan, hingga tari Gandrung, serta penggunaan selingan bahasa Using. Dalam novel ini, intensi pengarang dapat ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kasus pembantaian yang lebih didasari oleh prasangka. Ideologi pengarang dapat dimaknai sebagai gugatan terhadap penegakan hukum dan hak asasi manusia. Melalui novel ini, pengarang melakukan kritik kemanusiaan, bahwa pembantaian dukun merupakan perilaku anti-kemanusiaan.
Copyrights © 2023