Sejarah Islamisasi tidak bisa dilepaskan dari pola Manajemen Pendidikan oleh para penyebarnya. Menurut riset yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan (2021) terdapat indikasi destruksi atas Arca Buddha Awalokiteswara peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Situs Gedingsuro, akibat kekhawatiran pihak penguasa (Sultan) Palembang akan perilaku syirik warganya yang baru memeluk Islam di abad ke-17. Penelitian ini berusaha menjawab rumusan masalah yakni bagaimana pola manajemen pendidikan dalam Islamisasi Palembang dan apakah hal itu berkontribusi dalam destruksi arca Awalokiteswara di Situs Gedingsuro. Riset ini membuktikan bahwa para penyebar Islam telah melakukan Manajemen Pendidikan dengan baik sehingga sejak abad ke-15 agama ini telah diterima luas masyarakat Palembang. Bentuk manajemen tersebut ditekankan melalui konsep "Ahlul Fatrah" yakni tidak menghukumi moyang penduduk Palembang yang memeluk Buddha dan belum sempat masuk Islam sebagai penghuni neraka; mereinterpretasi predikat "Ahlul Kitab" yang tidak menempatkan Agama Buddha sebagai kepercayaan Syirik, dan mensintesiskan nilai universal kedua agama dalam mengatur kebutuhan manusia secara universal. Adapun peristiwa destruksi Arca Awalokiteswara kemungkinan kuat baru terjadi di waktu belakangan yakni pada abad ke-19 ketika terjadi peningkatan tendensi beragama akibat penetrasi penjajahan bangsa Barat yang mengancam kedaulatan Kesultanan Palembang, maupun berita invasi kerajaan Buddha Siam (Thailand) kepada kesultanan-kesultanan Muslim Melayu di Keddah dan Pattani.
Copyrights © 2023