Penelitian ini membahas mengenai ikon dalam sebuah puisi. Pendekatan semiotika digunakan sebagai pendekatan karya sastra untuk mengupas hal tersebut. Puisi yang akan dianalisis adalah puisi chairil anwar. Judul tersebut adalah (1) Aku, (2) Dimesjid (3) Derai-derai cemara. tiga puisi karya Chairil Anwar, yaitu "Di Mesjid", "Aku", dan "Derai-derai Cemara". Pada masing-masing puisi, terdapat ikon-ikon yang memiliki makna tersendiri. Dalam "Di Mesjid", ikon yang muncul adalah "Dia" yang merupakan simbol Tuhan, sedangkan dalam "Aku", ikon yang muncul adalah "binatang jalang" yang melambangkan kesendirian dan perlawanan. Pada puisi "Derai-derai Cemara", ikon yang muncul adalah "angin" yang menunjukkan ketidakpastian dan kerapuhan. Pesan tersirat yang terkandung dalam ketiga puisi ini adalah tentang kesulitan hidup, perjuangan untuk bertahan hidup, serta kebingungan dan ketidakpastian di masa depan. Puisi-puisi ini juga mengeksplorasi tema-tema seperti kesendirian, ketidakpastian, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam konteks pembelajaran media digital, ketiga puisi ini dapat memberikan inspirasi bagi pembelajar untuk mengembangkan kemampuan analisis semiotik dalam memahami makna dalam sebuah karya sastra. Pembelajar juga dapat mengasah kemampuan membaca dan memahami puisi dengan baik, sehingga dapat mengapresiasi karya sastra dengan lebih baik pula. Selain itu, ketiga puisi ini juga dapat memberikan pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang universal, seperti keberanian, keteguhan hati, dan semangat juang yang harus dimiliki oleh setiap individu.
Copyrights © 2022