Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan informasi terkait keefektifan penggunaan rumus untuk menyatakan sebuah berita atau informasi layak dinyatakan sebagai berita bohong atau hoaks atau bukan. Hal ini dirasa sangat perlu mengingat perkembangan informasi yang kian cepat dan lajunya sudah sulit dibendung. Ditambah lagi, jika ternyata berita hoaks tersebut mengandung unsur sara yang membuat lini kehidupan masyarakat menjadi terprovokasi dan terintimidasi. Pada akhirnya akan berakibat rusaknya hubungan antarmasyarakat karena termakan oleh berita bohong atau hoaks. Remaja sebagai agen perubahan dirasa perlu mengetahui cara penanggulangan hoaks, apalagi remaja adalah kalangan yang sangat aktif menggunakan media sosial. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Data yang diambil dari berbagai sumber digital yang tersebar di media massa dan digital. Setelah data diambil dari media digital, peneliti berusaha melakukan penelitian kemampuan responden dalam merespons isu hoaks dalam data tersebut dengan pendekatan pertanyaan 5W1H. Adapun responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa dari beberapa universitas di sekitar Jakarta dan Depok berjumlah 360 orang dengan rentang usia sekira 17 s.d. 25 tahun. Mereka menempuh pendidikan di universitas dengan jurusan kependidikan, ekonomi, dan komunikasi. Dengan rentang usia dan latar belakang pembelajaran mereka di kampus, diharapkan penelitian ini tepat sasaran dan tepat guna. Adapun hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 70% responden mampu membedakan dan menyimpulkan berita yang mereka terima adalah hoaks dengan menggunakan rumus 5W1H. Persentase ini merupakan persentase yang sangat banyak dan menggembirakan karena remaja mampu dan sudah dapat membedakan berita yang mereka terima, benar atau tidak
Copyrights © 2023