Salah satu fungsi sekolah asrama adalah untuk menyelesaikan permasalahan dalam pergaulan remaja.Namun yang terjadi orang tua tidak melihat kesiapan dan mental anak. Akibatnya, remaja sulitberadaptasi, sulit berkembang, kesepian, bosan dan depresi. Pada akhirnya berpengaruh pada school well-being yaitu penilaian siswa yang berkaitan dengan lingkungan sekolahnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan school well-being siswa yang tinggal di sekolah asrama. Desain penelitian menggunakan penelitian campuran (mix method) dengan jenis explanatory sequential yaitu menerapkan kombinasi dua pendekatan sekaligus, diawali dengan penggunaan metode kuantitatif dilanjutkan dengan metode kualitatif. Penelitian ini menyertakan 50 siswa SMA asrama X di Tanggerang Selatan) yang tinggal di asrama sekolahnya, berusia 15-17 tahun. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara pada keempat siswa terpilih, dua siswa dengan school well-being tinggi dan dua dengan school well-being rendah. Hasil penelitian yaitu11 orang siswa memiliki school well-being tinggi, 26 siswa memiliki skor sedang dan 13 orang siswa memiliki school well-being rendah. Data kuantitatif pada penelitian ini menunjukan bahwa dimensi being memiliki skor yang paling tinggi, sedangkan dimensi having memiliki skor yang paling rendah. Temuan dari penelitian ini adalah hasil data kualitatif bahwa terdapat kelompok-kelompok tertentu dan juga terdapat peraturan yang memisahkan kelas belajar siswa laki-laki dengan perempuan yang menyebabkan ketidaknyamanan pada beberapa siswa.
Copyrights © 2023