Penulisan sejarah khususnya sejarah Indonesia dibangun dengan dominan dalam kacamata laki-laki semata-mata, meskipun kadang-kadang perempuan ditampilkan dalam sejarah, namun tidak lebih sebagai pelengkap, atau ranah yang dikonstruksikan dalam budaya patriakhis yang selalu memihak dan untuk kepentingan laki-laki. Sangat sulit menemukan tulisan-tulisan dari sekian banyak karya-karya tentang sejarah revolusi yang mengungkapkan perempuan dalam bentuk lainnya. Artinya kacamata yang digunakan adalah bahwa urusan dapur, yang dalam perspektif jender lebih dikenal dengan ranah domestic merupakan tempat bagi perempuan semata-mata. Meskipun terdapat pengungkapan tentang laskar-laskar perempuan itu hanya tetap dalam posisi mengisi bunga-bunga sejarah, dengan kata lain sebagai peran tambahan. Perspektif patriakhis menilai bahwa peran tersebut bukanlah pekerjaan kaum perempuan.
Copyrights © 2020