Danau Tempe adalah salah satu danau terluas di Provinsi Sulawesi Selatan yang sebagian besar berada pada wilayah Kabupaten Wajo, sebagian berada pada wilayah Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Sidrap. Luas Danau Tempe ± 13.000 hektar dan memiliki keliling danau ± 70 km. Terjadinya berbagai masalah seperti pendangkalan danau oleh sedimentasi dan limbah rumah tangga yang bermuara di Danau Tempe membuat sebagian wilayah sekitar Danau Tempe terendam banjir tiap tahunnya terkhusus wilayah Kabupaten Wajo Adanya Pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Danau Tempe yang mana kegiatan utamanya adalah Pengerukan Sedimen (Tanah) Danau Tempe yang kemudian dari hasil Pengerukan Sedimen (Tanah) tersebut lalu dipindahkan ke suatu wadah (Dispossal Area) dengan luasan tertentu sehingga dari pemindahan Hasil Material Sedimen/Tanah tersebut akan membentuk sepert pulau di daerah kawasan Danau Tempe itu sendiri. Sehingga dengan terbentuknya pulau-pulau maka kedepannya pulau tersebut akan digunakan oleh masyarakat sebagai fasilitas Umum dan atau fasilitas sosial Terjadinya penurunan elevasi dipengaruhi oleh bahan galian material tanah yang digali, sehingga perubahan penurunan akan berpengaruh terhadap volume pekerjaan maupun terhadap kestabilan lereng pada saat terbentuknya pulau tersebut oleh karena itu penulis tertarik memilih topik dengan judul “ Kajian Penurunan Dispossal Area pada Revitalisasi Danau Tempe Kabupaten. Wajo”, Metode Penelitian yang dilaksanakan adalah dengan menginventarisasi dan mengidentifikasi serta mengumpulkan Data-data Primer dan Data-data Sekunder. Adapun pengumpulan Data-data primer adalah dengan mengambil sampel tanah dilapangan lalu kemudian dilakukan pengujian di laboratoirum mekanika tanah teknik sipil UMI, serta mengambil data-data sekunder dari laporan studi terdahulu, pengambilan data-data sekunder hasil pengukuran elevasi dilapangan serta mengambil rumus-rumus persamaan dari buku-buku literatur yang ada. Dari hasil praktikum dapat dianalisis jenis tanah pada dispossal area merupakan jenis tanah medium clay atau clay silty atau tanah lempung berlanau,terjadi penurunan total pada pulau W11 sesuai hasil analisis teoritis adalah sebesar 2,13 meter sedangkan hasil analisis numerik menggunakan aplikasi plaxis 2d menunjukkan penurunan maksimal sebesar 1,21 meter sedangkan hasil pengukuran dilapangan hanya sebesar 0,22 meter.tujuan dari penelitian ini cukup menggambarkan bahwa hasil analisis teoritis dan analisis numerik sangat berbeda namun memberikan dampak perubahan volume yang cukup besar dilapangan sehingga dengan mengetahui akan terjadinya penurunan yang signifikan maka perlu dilakukan upaya perkuatan pondasi dilapangan, sehingga setelah dilakukan perkuatan dengan cerucuk bambu dan geotextile maka hasil pengukuran elevasi dilapangan sangat berpengaruh yaitu penurunan yang terjadi sebesar 0,22 meter atau berkurang 89% dari analisa teoritis dan 81% dari analisa numerik.
Copyrights © 2019