Konsepsi-konsepsi yang paling menonjol mengenai kurikulum bisa diklasifikasikan menjadi empat golongan, yaitu: humanistik, rekonstruksionalis sosial, teknologis, dan akademik. Perumus dari tiap-tiap jenis kurikulum tersebut masing-masing memiliki pertanyaan yang berbeda mengenai kurikulum: apa yang harus diajarkan? Kepada siapa? Kapan? Dan bagaimana? Para penganut kurikulum humanis menyarankan bahwa sebuah kurikulum seharusnya memberikan wadah bagi pengalaman pribadi yang memuaskan bagi setiap siswa. Para humanis baru merupakan pelaku aktualisasi diri yang melihat kurikulum sebagai sebuah proses liberasi yang memenuhi kebutuhan akan pertumbuhan dan integritas pribadi. Namun demikian para humanis tersebut jangan diartikan sebagai pendidik dalam tradisi seni liberal yang menganggap humaniora sebagai disiplin ilmu yang terpisah, seperti: seni, musik, dan sastra, dan mereka yang berusaha untuk berhubungan dengan manusia hanya melalui karya kultural. Para rekonstruksionis sosial menekankan kebutuhan sosial yang terdapat pada kepentingan individual. Mereka menyatakan bahwa tanggung jawab sebuah kurikulum adalah untuk melakukan reformasi sosial dan menurunkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat. Mereka menekankan perkembangan nilai-nilai sosial dan penerapannya di dalam proses berpikir kritis. Teknologis melihat penyusunan kurikulum merupakan sebuah proses teknologis untuk meraih apa yang dikehendaki oleh pembuat kebijakan. Mereka menganggap dirinya bertanggung jawab untuk menciptakan realita yang menunjukkan bahwa kurikulum yang mereka susun sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Efisiensi dan akuntabilitas merupakan nilai akhir bagi seorang teknolog. Orientasi mereka tidaklah netral karena teknolog memiliki komitmen terhadap suatu metode yang akhirnya akan berpengaruh terhadap tujuan dan isi kurikulum. Orang yang memiliki orientasi akademik memandang kurikulum sebagai kendaraan yang bisa digunakan oleh pembelajar untuk mengenali disiplin ilmu dan mengenali bidang-bidang ilmu yang terorganisir. Mereka melihat isi yang terorganisir dari disiplin ilmu tersebut lebih sebagai sebuah kurikulum yang harus dicapai daripada sebuah sumber informasi untuk mendalami masalah personal dan lokal. Orang yang termasuk dalam kategori ini menganggap bahwa kurikulum akademik merupakan cara terbaik untuk mengembangkan pemikiran â bahwa penguasaan sejenis pengetahuan yang biasa ditemukan pada kurikulum semacam itu akan membentuk cara berpikir rasional.
Copyrights © 2011