Mengetahui pemahaman pemimpin Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) di kota Tomohon adalah sangat penting sebagai upaya membangun paradigma dan konsep berteologi, terutama teologi pentakosta GSJA, khususnya di kota Tomohon. Di Sulawesi Utara, kota Tomohon adalah pusat teologi dari GSJA yang pentakostal. Dibangun dari pengaruh teologi Barat yang diwariskan oleh misionaris Bethel Indies Mission pada tahun 1938, pemikiran teologi para pemimpin GSJA, khususnya yang dibangun dalam Sekolah Alkitab Minahasa (sekarang STT Parakletos Tomohon) bersifat eksklusif, dimana teologi hanya dipahami sebagai upaya membangun hubungan yang “vertikal” dengan Allah, sehingga dari konsep teologi tersebut GSJA membangun pondasi teologi yang terfokus pada dalam lingkup gereja dan terbangun secara liturgis. Gereja yang terbangun secara eksklusif secara tidak langsung berpengaruh terhadap cara pandang gereja tersebut terhadap “dunia” sekitarnya, yaitu bagaimana gereja memandang kemajemukkan dan perbedaan, serta budaya dalam konteks gereja tersebut hidup. Gereja seharusnya bersifat “inklusif” dan berusaha hidup di dalam konteks perbedaan agama, budaya dan masyarakat, sehingga gereja dapat menjadi “jembatan penghubung” yang menghantarkan Injil kepada manusia dalam konteksnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, dimana dalam penelitian kualitatif bukan menekankan pada hasil, tetapi pada proses penelitian tersebut. Dalam penelitian ini, penulis menekankan pada pendekatan fenomenologis dan teologis, dengan metode wawancara sebagai cara mengumpulkan data yang empiris. Dari hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan, penulis menemukan bahwa bebrapa pemimpin gereja hidup dalam pemahaman teologi yang eksklusif dan memandang budaya sebagai “musuh” gereja, dan pemahaman tersebut dapat mempengaruhi pemahaman dan sikap gereja terhadap konteks. Dikarenakan pemahaman pemimpin gereja yang terbangun secara eksklusif dengan memahami teologi pentakosta secara “sempit” tersebut, maka perlu dibangun kerangka berteologi yang pentakostal-kontekstual di kalangan pemimpin GSJA, secara khusus di Tomohon, sehingga terbangun teologi yang inklusif, dimana terjadi keseimbangan konsep pelayanan praktik gereja yang horizontal dan vertikal.
Copyrights © 2021