Dari berbagai jenis bahasa daerah yang tumbuh subur di Indonesia, cukup banyak yang digunakan di Maluku. Di antara puluhan bahasa tersebut, ada bahasa Selaru (BSL) yang dituturkan di Pulau Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Saat ini, Pulau Selaru menjadi prioritas pemerintah karena statusnya sebagai kawasan perbatasan negara dari 111 pulau-pulau kecil terluar (PPKT) yang Berpenghuni. Di pulau tersebut berdiam kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda bahasa, yakni kelompok migran yang berbahasa Yamdena, dan kelompok masyarakat setempat yang berbahasa Selaru. Para migran menempati pusat kecamatan, dan secara kuantitas lebih dominan. Berdasarkan dinamika yang unik itulah, perlunya penelitian sikap bahasa penutur BSL. Dari tujuh desa yang menuturkan BSL, dipilih Desa Kandar dan Desa Lingat sebagai lokasi penelitian dengan mengacu pada jarak kedua desa dengan pusat kecamatan, latar belakang historis, dan potensi desa. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan survei. Data utama diperoleh dari kuesioner survei yang dibagikan kepada para responden penutur BSL yang meliputi generasi muda (GM), generasi transisi (GT), dan generasi lansia (GL). Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap penutur terhadap BSL di Desa Kandar tergolong sangat tinggi, yakni 86,8% meskipun GM sudah kurang mahir menggunakannya. Selanjutnya, di Desa Lingat kebanggaan penutur terhadap BSL sangat tinggi, dan mencapai angka 96,4% karena semua generasi kerap berkomunikasi dengan BSL.
Copyrights © 2023