AbstrakLatar belakang: Tindakan kekerasan atau pelecehan seksual semakin banyak dilaporkan pada beberapa tahun belakangan ini, terutama pada perempuan. Bukan saja pada tingkat global, tetapi juga nasional maupun lokal. Tindakan kekerasan atau pelecehan seksual berpotensi menimbulkan trauma yang mendalam bagi korban, depresi maupun gangguan kejiwaan yang lain.Metode: Studi kasus tentang pelecehan seksual yang menimbulkan gangguan stress pasca trauma.Hasil dan Pembahasan: Seorang perempuan 18 tahun, masih sekolah ditingkat SMA mengeluh ketakutan setelah mengalami beberapa kali kekerasan atau pelecehan seksual baik oleh orang terdekat maupun orang yang tidak dikenal. Dengan pendekatan multiaksial korban diagnosis dengan Gangguan Stress Pasca-Trauma. Terkonfirmasi korban mengalami Depresi berat menggunakan Hamilton Depression Rating Scale dan Depresi ekstrim dengan menggunakan Beck Depression Inventory. Teridentifikasi beberapa faktor seperti: Adanya konflik dan kekerasan dalam keluarga, pernah menjadi korban atau perbuatan seksual sebelumnya, lingkungan keluarga yang tidak mendukung secara emosional, hubungan orang tua-anak yang buruk, dan kemiskinan. Dilakukan tatalaksana secara komprehensif menggunakan pendekatan multidisilin. Secara Farmakologi diberikan Risperidon 1 miligram tablet tiap 24 jam per-oral pagi, dan Sertraline 25 miligram tablet tiap 24 jam per-oral malam. Korban juga mendapatkan psikoterapi, edukasi, dan dukungan sosial. Selanjutnya terhadap korban dilakukan pemantauan secara berkala.Kesimpulan: Kekerasan atau pelecehan seksual rentan menimbulkan Gangguan Stress Pasca-Trauma sehingga memerlukan pendekatan multidisiplin dan tatalaksana komprehensif. Mulai dari melakukan anamnesis untuk konfirmasi diagnosis, tatalaksana dan pemantauan.Kata kunci: pelecehan seksual pada perempuan, Gangguan stress Pasca-Trauma, Depresi.
Copyrights © 2023