Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN FUNGSI SEKSUAL WANITA PASCA PERSALINAN PERVAGINAM DENGAN EPISIOTOMI DAN SEKSIO SESAREA Darmayasa, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan fungsi seksual pada pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan seksio sesarea di Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Bahan dan cara kerja : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional analitik. Sampel diambil secara consecutive sampling dari bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan September 2012. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi didapatkan 86 sampel, terdiri dari 43 pasca episitomi dan 43 pasca seksio sesarea. Selanjutnya fungsi seksual dinilai dengan pengisian kuisioner FSFI (Female Sexual Function Index). Skor total kuisioner dianalisis dengan uji t-independent, dan perbedaan fungsi seksual digunakan uji Chi-Square, dengan tingkat kemaknaan ?=0,05. Hasil : Karakteristik subyek kedua kelompok menunjukkan hal yang sama sehingga pengaruhnya terhadap hasil penelitian dapat diabaikan. Rata-rata saat mulai hubungan seksual pada kedua kelompok adalah tiga bulan pasca melahirkan, dengan p > 0,05. Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara kedua kelompok pada domain rangsangan dan lubrikasi masing-masing dengan p=0,160, dan p=0,067. Sedangkan domain yang lain menunjukkan perbedaan bermakna yaitu hasrat (p=0,014), orgasme(p=0,045), kepuasan (p=0,018), nyeri (p=0,02), dan skor total FSFI (p=0,006). Pada fungsi seksual kedua kelompok didapatkan disfungsi  seksual masing-masing 18,60% pada pasca episiotomi, dan 2,33% pada pasca seksio sesarea, dengan nilai p=0,030. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang bermakna pada fungsi seksual kelompok pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dibandingkan dengan pasca seksio sesarea.   Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dibandingkan dengan pasca seksio sesarea. Kata kunci :  Episiotomi, seksio sesarea, fungsi seksual wanita.
DELAPAN-HIDROKSI-2’DEOKSIGUANOSIN SERUM SEBAGAI FAKTOR RESIKO ABORTUS IMINENS Darmayasa, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus iminens  adalah perdarahan pervaginam yang berasal dari uterus pada umur kehamilan dibawah 20 minggu tanpa adanya pembukaan serviks  dimana hasil konsepsi masih didalam uterus yang dibuktikan dengan ultrasonografi dan tes kehamilan positif. Insidennya kurang lebih 25% pada wanita hamil muda. Abortus iminens dapat bertahan sampai hamil aterm atau berlanjut menjadi abortus spontan baik komplit maupun inkomplit, dimana abortus inkomplit  memerlukan tindakan kuretase untuk membersihkan sisa jaringan  hasil konsepsi. Tindakan kuretase memiliki resiko berupa perdarahan, infeksi, sepsis sampai dengan kematian, dan  dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah infertilitas. Terjadinya abortus dapat berulang dan disebut abortus habitualis apabila kejadiannya lebih dari tiga kali.  Penyebab pasti abortus iminens tidak selalu jelas, ada beberapa faktor yang diduga berperanan, salah satunya adalah peranan radikal bebas yang menimbulkan stress oksidatif  pada awal kehamilan, yang  dapat menimbulkan kerusakan protein, lipid dan DNA pada sel-sel desidua basalis, sitotrofoblast maupun sinsitiotrofoblast yang berpengaruh pada fase organogenesis plasenta janin. Delapan-hidroksi 2’Deoksiguanosin (8-OHdG)  dapat dipakai untuk menilai kerusakan DNA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 8-OHdG serum sebagai faktor resiko abortus iminens. Desain pada penelitian ini berupa studi kasus kontrol yang melibatkan 68 orang wanita yang dikelompokkan menjadi 34 orang kasus abortus iminens dan 34 orang wanita hamil muda sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang datang ke Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar. Dilakukan pemeriksaan serum darah untuk mengetahui kadar 8-OHdG pada kedua kelompok dengan metode Elisa. Berdasarkan uji independent test-t diperoleh hasil dimana tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal umur ibu, umur kehamilan dan paritas antara kelompok kasus abortus iminens dan kelompok kontrol yaitu hamil muda (p<0,05). Terdapat perbedaan (p<0,05) yang secara signifikan bermakna antara kadar serum 8-OHdG pada abortus iminens (0,16+0,06) µg/ml dan  hamil muda normal (0,13+0,06) µg/ml. Dengan uji Chi-Square diperoleh nilai rasio odds (RO=6,00;IK95%=1,95-17,97,p=0,001). Berdasarkan kurva ROC diperoleh nilai cut off point kadar 8-OHdG adalah sebesar 0,131µg/ml. Pada hamil muda dengan kadar 8-OhdG > 0,131 µg/ml beresiko 6 kali untuk terjadi abortus iminens.   Kata kunci :  Abortus iminens, kadar 8-Hidroksi 2’Deoksiguanosin (8-OHdG)
HUBUNGAN ANTARA UMUR, PENDIDIKAN, DAN PEKERJAAN ISTRI SERTA STATUS SUAMI DENGAN RISIKO TERJADINYA INFEKSI HIV PADA IBU HAMIL DI BALI Darmayasa, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi HIV di Bali adalah nomor dua setelah Papua dan cenderung meningkat mengikuti deret ukur yang sebagian besar ditemukan pada usia muda reproduktif. Penularan utama melalui hubungan seksual dimana peran umur, pendidikan, dan pekerjaan ibu diduga sangat besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur, pendidikan, dan pekerjaan pada ibu hamil serta status HIV suami terhadap risiko terinfeksi HIV. Rancangan penelitian adalah kasus kontrol tidak berpasangan di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar selama dua bulan, yakni bulan Oktober - Nopember 2011. Sampel adalah ibu hamil terinfeksi HIV sebagai kelompok kasus dan tanpa infeksi HIV sebagai kelompok kontrol. Diagnosis HIV ditegakkan dengan rapid test serum, yaitu dinyatakan positif kalau reaktif dan negatif kalau non reaktif. Analisis data memakai uji Chi Square dengan bantuan SPSS for windows 17.0 version untuk mengetahui rasio Odds. Sejumlah 50 sampel dibagi atas 25 kelompok kasus dan 25 kelompok kontrol. Diperoleh bahwa risiko terinfeksi HIV wanita hamil pada umur tua vs muda, pendidikan tinggi vs rendah, dan pekerjaan berisiko vs tidak berisiko adalah tidak bermakna pada kedua kelompok. Rasio Odds masing-masing adalah 0,35 (KI 95% = 0,08-1,55; p = 0,16),  0,85 (KI 95% = 0,28-2,59; p = 0.77), dan 2,09 (IK 95% = 0,18-24,62; p = 1,00). Sedangkan, rasio Odds status HIV suami  adalah 12,67 (KI 95% = 3,31-48,50; p = 0,01). Jadi, suami terinfeksi HIV meningkatkan risiko HIV pada ibu hamil 12 kali lebih besar dibanding dengan suami tidak terinfeksi HIV. Sedangkan, faktor umur, pendidikan, dan pekerjaan ibu bukan merupakan faktor risiko terjadinya infeksi HIV pada  ibu hamil.
KARAKTERISTIK PASIEN ABORTUS INFEKSIOSUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR BALI 1 JANUARI 2010 - 31 DESEMBER 2011 Darmayasa, I Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat 38 kasus abortus infeksiosus dalam kurun waktu Januari 2010 sampai dengan Desember 2011 di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali dengan karakteristik sebagai berikut : Kelompok umur terbanyak adalah usia 20-35 tahun sebesar 63,2%, sebanyak 65,8% kasus tidak menikah atau dalam status belum menikah, menurut paritas terbanyak adalah paritas 0 sebesar 57,9%, menurut pendidikan terbanyak yaitu menengah (SMP dan SMA) sebesar 84,2%, dengan pekerjaan terbanyak adalah sebagai pegawai swasta sebesar 65,8%, suku terbanyak adalah suku Bali sebesar 63,2%, sistem pembayaran terbanyak adalah umum sebesar 79,0%,  keluhan saat datang adalah perdarahan pervaginam sebesar 76,3%, sebesar 73,7% kasus tidak menggunakan kontrasepsi, seluruh kasus 100% merupakan kehamilan yang tidak diinginkan dengan adanya upaya untuk menggugurkan kandungan, dengan alasan belum siap menikah sebesar 57,9%, metode menggugurkan kandungan terbanyak dengan memasukkan benda asing kedalam vagina sebesar 47,3%, tempat menggugurkan terbanyak adalah didukun sebesar 50%, terbanyak usia kehamilan > 12 minggu sebesar 65,8%, komplikasi yang ditimbulkan DIC sebanyak 2 kasus (5,3%) dan sepsis 1 kasus (2,6%) yang memerlukan perawatan diruang intensif, rata-rata lama perawatan kurang  dari atau sampai dengan 9 hari sebesar 79,0%, sebesar 84,2% kasus pulang dengan keadaan membaik atau sembuh dan 6 kasus (15,8%) pulang paksa, tidak terdapat kasus kematian maternal oleh karena abortus infeksiosus. Hal ini mencerminkan sudah baiknya penanganan abortus infeksiosus disamping kondisi saat penderita datang masih stabil dan adanya dukungan saudara, keluarga bahkan pacar untuk segera berobat.
KARAKTERISTIK UMUR, PENDIDIKAN, DAN PEKERJAAN ISTRI SERTA STATUS SUAMI SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA IBU HAMIL Saspriyana, Kade Yudi; Suwiyoga, Ketut; Darmayasa, I Made
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.324 KB)

Abstract

Prevalensi HIV di Bali adalah nomor dua setelah Papua dan cenderung meningkat mengikuti deretukur yang sebagian besar ditemukan pada usia muda reproduktif. Penularan utama adalah melaluihubungan  seksual,yang  selanjutnya diketahui bahwa peran umur, pendidikan, dan pekerjaan  ibudiduga  sangat  besar. Penelitian  ini  bertujuan untuk mengetahui  apakah umur,  pendidikan,  danpekerjaan pada  ibu hamil  serta  status HIV  suami  sebagai  faktor  risiko  ibu hamil  terinfeksi HIV.Metode  yang  digunakan  adalah  berupa  kasus  kontrol  tidak  berpasangan  di Bagian Obstetri  danGinekologi RSUP Sanglah Denpasar selama dua bulan, yakni bulan Oktober-Nopember 2011. Sampeladalah  ibu hamil terinfeksi HIV sebagai kelompok kasus dan tanpa  infeksi HIV sebagai kelompokkontrol. Diagnosis HIV ditegakkan dengan rapid test serum, yaitu dinyatakan positif kalau reaktifdan negatif kalau non reaktif. Analisis data memakai uji Chi Square untuk mengetahui rasio odds.Lima puluh orang sampel dibagi atas 25 kelompok kasus dan 25 kelompok kontrol. Diperoleh bahwarisiko terinfeksi HIV wanita hamil pada umur tua vs muda, pendidikan tinggi vs rendah, dan pekerjaanberisiko vs tidak berisiko adalah tidak tidak bermakna pada kedua kelompok. Rasio odds masing-masing adalah 0,35 (IK 95% = 0,08 sampai 1,55; P = 0,157),  0,85 (IK 95% = 0,28 sampai 2,59; P =0,777), dan 2,09(IK 95% = 0,18 sampai 24,62;P= 1,00).Rasio odds status HIV suami adalah 12,67 (IK95% = 3,31 sampai 48,50; P = 0,001).Dapat disimpulkan bahwa suami terinfeksi HIV meningkatkanrisiko HIV pada ibu hamil 12 kali lebih besar dibanding dengan suami tidak terinfeksi HIV. Faktorumur, pendidikan, dan pekerjaan ibu bukan merupakan faktor risiko terjadinya infeksi HIV pada ibuhamil. [MEDICINA 2015;46:3-8].The prevalence of HIV  in Bali  is number  two after Papua and  likely  to  rise  following a geometricprogression that  is mostly  found at the young age of reproductive. The main transmission throughsexual intercourse, the role of age, education, and the work of the mother allegedly is huge.This studyaims to know the relationships between age, education and occupation on the pregnant women and theHIV status of the husband against the risk of being infected with HIV.Study design was a not pairedcase control study at the Obstetrics and Gynecology Department Sanglah Hospital Denpasar was fortwo months, the month of October-November 2011. The sample were pregnant women who are willingto participate in this study, which are distinguished as groups of HIV-infected cases and without HIVinfection as a control group. Diagnosis of HIV rapid test with serum enforced, that is positive if reactiveand the stated negative if a non reactive. Data analysis using the Chi Square test to know the oddsratio.A number of 50 samples was divided into 25 groups of case and control group 25. Obtained thatthe risk of HIV-infected pregnant women in the age old vs. young, low vs. higher education, and occupationsat risk vs. not at risk is not meaningless in the two groups. Each odds ratio is 0.35 (95% CI  = 0.08 to1.55; P = 0.157), 0.85 (95% CI   = 0.28 to 2.59;P = 0.777), and 2.09(95% CI = 0.18 to 24.62;P= 1.00).Meanwhile, the odds ratio of the husband HIV status was 12.67 (95% CI  = 3.31 to 48.50;P = 0.001).Final conclusions are husbands infected with HIV increases the risk of HIV in pregnant women 12times greater  than  the husband was not  infected with HIV. Age, education, and  the occupation ofmothers  is not a
KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN PEMERINTAH KECAMATAN DI KOTA DENPASAR MENURUT UNDANG – UNDANG NO.32 TAHUN 2004 DAN PERDA NO.9 TAHUN 2008 I Made Sudarmayasa; I Gusti Ayu Puspawati
Kertha Negara : Journal Ilmu Hukum Vol. 03, No. 01, Februari 2015
Publisher : Kertha Negara : Journal Ilmu Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.863 KB)

Abstract

Indonesian is a sovereign independent state and local governments is an area whereintegritalnya. Therefore large and the number of government affairs, it is not possibleentirely in the care of its own by the central government based in Jakarta. In regard to thesetwo districts were formed in each district or city in Indonesia, position and authority districtsin the city of Denpasar as the local district or city. Where the purpose of the study is toexamine the status and authority of the district governments in accordance with thenormative method, which refers to Law 32 of 2004 on Regional Government and Regulation9 of 2008 concerning Organization and Work Denpasar District and Sub-District. Denpasarsubdistrict government authority under the Act 32 of 2004 wherein, Head in carrying outtheir duties in aid by the districts and accountable to the Regent and the Mayor through thesecretary. Implementation of Denpasar subdistrict government authority in relation to thegovernment of Denpasar where the implementation of the common tasks in the districtadministration. Form of guidance on kamtibmas village or village, community empowerment,fostering public welfare and development.
Uterine Perforation as a Complication After Unsafe Abortion: Serial Case I Made Darmayasa; Nicholas Renata Lazarosony
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.70135

Abstract

The demand for abortion and the incidence of unsafe abortion are still very high. About 45% of all abortions worldwide are unsafe abortions. Unsafe abortion is still a public health problem and one of the causes of maternal morbidity and mortality. In this article, we report 2 cases of uterine perforation after provocation or induced abortion due to unwanted pregnancy. The diagnosis of uterine perforation was established by clinical suspicion and exploratory laparotomy. Many factors affect access to abortion and one of them is the law regarding abortion. Countries with almost no deaths from unsafe abortions are countries that allow abortion on demand without restrictions. Meanwhile, unsafe abortion can be prevented through prevention and controlKeywords: unsafe abortion, uterine perforation.
The Age, Education, and Occupation Characteristics is not Associated with Human Immunodeficiency Virus (HIV) Infection in Pregnant Mothers Kade Y. Saspriyana;  Ketut Suwiyoga; I Made Darmayasa
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 2, No. 2, April 2014
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.087 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v2i2.382

Abstract

Abstract Objective: To know the relation ship between age, education and occupation on the pregnant women and the HIVstatus of the husband against the risk of being infected with HIV. Method: This was an unpaired case cont rol study perform ed in the Obstetrics and Gynecology Department of Sanglah Hospital, Denpasar, from October to November 2011. The subjects were pregnant women who were willing to particip ate in the research, which were grouped into HIV-infected case and control group. Diagnosis of HIV was based on rapid test The data was analyzed using ChiSquar e test with the help of SPSS version 17.0 Result: There was fifty subjects consisting of 25 subjects in the case group and 25 subjects in contr ol group we obtained that the risk of HIV-infected pregnant women in the old vs young age, low vs higher education, and occupations at risk vs not at risk is not significant in the two groups. Each Odds ratio is 0.35 (CI =95% 0.08-1.55; P = 0.16),0.85 (CI=95% 0.28-2.59; P =0.77), and 2.09 (CI=95% 0.1824.62; P =1.00). Meanwhile, the odds ratio of the husband HIV status was 12.67 (CI =95% 3.31-48.50; P =0.01). Conclusion: Husband s infected with HIVincreases the risk of HIV in pregnant women 12 times greater than if the husband was not infected with HIV. Wher eas, age, education, and th e occupation of mothers is not a risk factor for the occurrence of HIV infection in pregnant women. Keywords: age, education, husband HIV statu s, occupation and pregnant women infected with HIV.
Female Sexual Function after Vaginal Delivery with Episiotomy and Cesarean Section: Fungsi Seksual Perempuan Pascapersalinan Pervaginam dengan Episiotomi dan Seksio Sesarea I Made W Jembawan; I Made Darmayasa
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 2, No. 4, October 2014
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.83 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v2i4.408

Abstract

Objective: To determine the difference of sexual function after vaginal delivery with episiotomy and cesarean section in Sanglah Hospital, Denpasar. Method: This research was conducted using cross sectional method. Sample was collected using consecutive sampling, starting from October 2011-September 2012. Our sample consists of 86 women, 43 post-episiotomy and 43 post-cesarean section. Sexual function was assessed using FSFI (Female Sexual Function Index). Total score was analyzed using independent t-test and difference of sexual function was tested using Chi-square, with significance level p<0.05. Result: Subject characteristics in both groups did not differ significantly. The average time to first sexual intercourse in both groups was 3 months after delivery (p>0.05). There was no significant difference between the two groups in term of sexual arousal and lubrication, with p-value 0.160 and 0.67, respectively. However, we found significant difference in other domains, namely desire (p=0.014), orgasm (p=0.045), satisfaction (p=0.018), pain (p=0.02), and total FSFI score (p=0.006). Sexual dysfunction was found in 18.60% of the episiotomy group and 2.33% of the cesarean section group, with p=0.030. Conclusion: Female sexual dysfunction was found to be significantly different between women post vaginal delivery with episiotomy and women who had cesarean section. Keywords: cesarean section, episiotomy, female sexual function
Demographic bonus in Bali: hopes and challenges in reproductive health I Made Darmayasa; IGN Harry Wijaya Surya; Made Bagus Dwi Aryana
Indonesian Journal of Perinatology Vol. 2 No. 1 (2021): Available Online: 1 June 2021
Publisher : The Indonesian Society of Perinatology, South Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.091 KB) | DOI: 10.51559/inajperinatol.v2i1.11

Abstract

Background: Bali experienced an earlier demographic bonus and a longer duration than the national one. The demographic bonus provides both hope and challenges from a reproductive health perspective, especially in the current Covid-19 pandemic. Methods: Extracted from various sources, analyzed and presented in the form of a description. Result: In the period 1960-2000, the population growth rate in Bali continued to decline, but from 2000 to 2010, it increased again to 2.14. The age group below 50 years reaches 80%, the distribution is 30% under the age of 18 years, then 24% at the age 19-35 years, and 24% for the age group 35-50 years. In 2020 Bali entered the demographic bonus with the lowest dependency ratio between 42.2% - 43.3%. Bali's life expectancy rate reached 70.61 years in 2010 and is predicted to be 71.68 years in 2018. Based on the Regency/City of Bali Province's projected population in 2010-2020, the number of seniors in Bali in 2020 is 11.51%. The challenges faced include: 1. Knowledge of adolescents about reproductive health, 2. High number of the population in productive age accompanied by an understanding of reproductive health is still low. 3. Disease awareness of various pathological conditions in pregnancy is still low, coverage of contraceptive use is still low, causing pregnancy without planning, unwanted and high risk, 4. Low quality of antenatal care, 5. There are still many pregnant people, and giving birth without financing pattern, 6. Population mobility, many pregnant women who come to Bali, are not equipped with population data/identities, including family cards, 7. The increasing number of people over 60 years of age are unproductive, unhealthy, and not independent. These challenges will burden the family and or the government, especially if they do not have a good financing pattern. Conclusion: The demographic bonus in Bali occurs earlier than in some other regions in Indonesia due to success in managing population programs. This bonus does not guarantee the success of development in the overall sense of the Covid-19 pandemic era. Bali still has to strive hard to realize its development hopes and solve existing and real challenges.
Co-Authors AA Sri Wahyuni Amelia Dwi Nurulita Sugiharta Anak Agung Gede Putra Wiradnyana Anak Agung Ngurah Anantasika Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma Anom Suardika Antika, Sindi Ariani, Ni Ketut Putri Ariani, Ni Komang Arista, Luh Febi Aryana, Made Bagus Dwi ARYANI , LUH NYOMAN ALIT Astuti, Ni Made Erpia Ordani Aulia Iefan Datya Bay, Godefridus Paulo Budiana, Nyoman Gede Chrismayoga, I Made Donny Dr. Christimulia Duarsa, Vidya Saraswati Putri Eka Yadnya, Ni Putu Evert Solomon Pangkahila Florencia Desiree I Gde Sastra Winata I Gede Agus Mertayasa I Gede Mega Putra I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya I Gusti Ayu Puspawati I Gusti Putu Mayun Mayura I Kadek Dedi Susila Yasa I Ketut Suwiyoga I Made Bagus Widiastra I Made W Jembawan I Nyoman Gede Budiana I Nyoman Sucipta I PUTU PRANATHA SENTOSA I Wayan Artana Putra I Wayan Jian Ambara Raja I Wayan Megadhana I Wayan Susrama I Wayan Tika I Wayan Toni Astika Putra I Wayan Yuda Tama Wiguna Ida Bagus Arjuna Ida Bagus Gde Fajar Manuaba IWK Teja Sukmana Janawati, Desak Putu Anom KADE YUDI SASPRIYANA Krismawintari, N.P.D. Kunto Ajibroto, Kunto Kusuma, A.A.N Jaya Kusuma, Anak Agung Ngurah Jaya Luh Putu Mahatya Valdini Putri Made Bagus Dwi Aryana Marta, Kadek Fajar Muhammad Freddy Candra Sitepu Mustaqmah, Sri Asyrafil Natanael, Raymond Josafat Major Ng Teng Fung Vincent Ni Ketut Sri Diniari, Ni Ketut Sri Ni Komang Ayunda Paramita Ni L.P. Suarmi Sri Patni Ni Luh Putu Suarmi Sri Patni Ni Luh Sri Purnama Pradnyani Ni Made Erni Damayanti Ni Made Erpia Ordani Astuti Ni Made Nena Sucilestari Ni Nyoman Eva Listyani Ni Nyoman Sulastri Ni Putu Candra Vania Pebrianti Ni Putu Devi PradnyaWulantari Nicholas Renata Lazarosony Nicholas Renata Lazarosony Nyoman Bayu Mahendra Ongko, Eric Gradiyanto Ordani Astuti, Ni Made Erpia Pradnyana, Putu Beny Prayudi, Pande Kadek Aditya PUTRA, SURYA PRADNYANA Putu Adi Sujana Putra Putu Doster Mahayasa Putu Suarmi Sri Patni R. Tri Priyono Budi Santoso Rela Hamdanillah Ryan Saktika Mulyana Santini, Ni Nyoman Santini Santoso, R. Tri Priyono Budi Sarah Endang S Siahaan Sari, Ni Kadek Dwita Sidhi Bayu Turker SILAEN, REBECCA MUTIA AGUSTINA Sitanggang, Amita Rouli Purnama Surya, I Gede Ngurah Harry Wijaya Susrama, I Wayan Tri Oktin Windha Daniaty TULUS, ANGELINA Wardani, Ida Aju Kusuma Wasita, Putu Aristya Adi Wasita Wati, Ni Putu Eka Yadnya William Alexander Setiawan Winarso, Ervinna Agatha