Pada zaman Santo Ignatius, Uskup Antiokia, Gereja sungguh berjuang untuk membela dan mempertahankan imannya. Umat Kristiani dipaksa untuk menyangkal imannya dan dihadapkan ke pengadilan. Sebagian besar dari mereka tetap mengakui imannya kendati harus menanggung kemartiran, antara lain Ignatius. Ia memandang kemartiran sebagai bukti persembahan diri kepada Allah dengan menjadikan dirinya sebagai gandum yang digiling menjadi roti murni. Bagi Ignatius, kemartiran adalah bentuk pemuridan total dan jalan mencapai kesempurnaan mengikuti jejak Kristus. Penghayatannya akan kemartiran terkait erat dengan pemahamannya perihal Ekaristi yang menghantar umat pada persatuan dengan Allah dalam Kristus.
Copyrights © 2023