Penulisan artikel ini bertujuan untuk melihat aksiologi upacara tabuik sebagai tradisi religius di Kota Pariaman. Festival Tabuik sudah berlangsung sejak puluhan tahun, disebutkan bahwa festival ini sudah berlangsung sejak abad ke-19 Masehi. Festival Tabuik ini kini tidak hanya menjadi bagian dari adat minangkabau semata melainkan juga menjadi salah satu bagian dari komoditas pariwisata daerah. Artikel ini menerapkan metode kualitatif dengan menerapkan sistem deskriptif analisis dalam menuangkannya. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah studi kepustakaan library research yang bersumber dari berbagai literatur bacaan dan artikel penelitian terdahulu mengenai aksiologi upacara tabuik di Kota Pariaman. Makna Tabuik yang terbentuk oleh masing-masing pihak. Oleh masyarakat, tabuik dijadikan sebagai ajang hiburan. Oleh pemerintah, tabuik dijadi kan sebagai agenda pariwisata, sedangkan oleh urang tabuik, tabuik masih dijadikan sebagai tradisi budaya yang patut dilestarikan. Proses desakralisasi terjadi akibat adanya tantangan zaman tabuik berkembang sesuai dengan ideology nya. Pelaksanaan tabuik sudah jauh bergeser, namun masih tetap dipertahankan sebagai tradisi budaya masyarakat Pariaman.
Copyrights © 2023