Kemampuan literasi mahasiswa penjaskesrek memprihatinkan hal ini nampak dari tulisan mahasiswa yang dikumpulkan pada tugas yang diberikan dosen. Banyak dosen mengeluhkan tulisan mahasiswa yang tidak dapat dibaca karena tidak jelas reliefnya. Saat perkuliahan ketika dosen meminta mahasiswa untuk merefleksikan perkuliahan ataupun mendiskusikan materi yang dibahas banyak sekali mahasiswa yang dalam berbicara tidak terstruktur kalimatnya. Mahasiswa cendereung pasif saat perkuliahan dikarenakan kurang memahami perkuliahan yang diberikan walaupun dosen sudah menggunakan model pengajaran yang sesuai dengan klasisfikasi mahasiswa. Jawaban atas ujian yang diberikan juga terlalu konseptual, pengembangan atas buah pikiran dari konsep dasar yang diberikan tidak bisa dikembangkan oleh mahasiswa. Data kuantitatif yang dipersepsikan secara deskriptif adalah pendekatan yang dilakukan secara deskriptif kuanti. Data yang disebar melalui google form kepada setiap sampel mahasiswa menggunakan penilaian skala likert dengan 5 kategori nilai . Dengan penilaian 1 (TP-Tidak Pernah), 2 (J- Jarang), 3 (KK-Kadang kadang), 4 (S-Selalu). Adapun indikator mengukur kemampuan literasi mahasiswa menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Association College and Research Libraries Kemampuan Membaca dan Kemampuan Menulis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diprogram studi penjaskesrek masih terdapat mahasiswa yang memiliki kemampuan literasi yang rendah. Rendahnya kemampuan literasi ini adalah akibat dari faktor-faktor pendukungnya yang tidak berjalan dengan optimal. Perlunya perhatian dan tindakan dari segenap lapisan yang ada di dunia pendidikan terlebih lagi lingkungannya. Agar fenomena ini dapat teratasi dan menjadikan pendidikan di tanah papua menjadi lebih baik.
Copyrights © 2023